Kamis, 20 Januari 2011

Napak tilas..

Pagi ini akhirnya kuputuskan juga untuk berangkat ke Depok..walaupun badan rasanya mualaaaaasss banget... 

Target hari ini adalah mengurus rekening di sebuah bank yang buka cabang di kampus UI (gak perlu disebut lah ya.. hehe), mengambil surat keterangan dari fakultas, sampai menghadiri makan2 perpisahan salah satu temen kantor yang diterima kerja di tempat yang lebih baik..amiiin.. (padahal aku udah lama gembar-gembor mau keluar, eeeh..ternyata keduluan )

Pagi-pagi aku putuskan untuk berjalan kaki menuju fakultas MIPA tempat bank tersebut berada (yaaah..ketahuan deh..hihi). Sekalian olahraga pagi, aku melintasi jalan belakang rektorat, melewati kampus MIPA (yang juga tempat kerjaku dulu) dan horeee...aku sampai... Tapiiii... ketika sampai di dekat kantor lamaku itu... aku melihat segerombolan orang seperti sedang diskusi di pinggiran gedung... yaah, ku pikir hanya mahasiswa...
Tapiiii... semakin mendekat, kok kayaknya kenal ya??? hoalaaaah..itu mantan bosku dulu...waduuuh, lagi males basa-basi nih.. pura2 gak lihat aja aaah *sambil ngeloyor pergi
Eh, pas di tengah jalan...tak bisa kuhindarkan lagi.. aku bertemu juga dengan salah seorang staf di sana yang juga mantan teman sekantorku pastinya..
"eh, mbak...apa kabar?? dimana sekarang??" sapa si bapak2 separuh baya itu sambil mengulurkan tangannya untuk kujabat...
"baik pak, sekarang masih di fasilkom" jawabku sambil mesem2 dan mengatupkan kedua tanganku tanda aku tidak bisa menerima jabatan tangannya itu...
"oooh..ya..yaa.." jawab si Bapak sambil senyum2 padaku
langsung saja aku jalan perlahan pura-pura terburu-buru sambil menitipkan salam buat yang lain kepada si Bapak...
"eh mbak, siapa namanya ya?" tanya si bapak sambil setengah teriak..
"puspita.." jawabku dilengkapi dengan senyum manis tentunya

sejujurnya aku juga lupa nama si Bapak... yang aku ingat beliau salah satu teknisi di laboratorium di jurusan tersebut..

Ketika sampai di bank yang kutuju... oh noooo...ada lagiiiii..
seorang dosen dari kantorku dulu... pura-pura gak lihat ahhhh... sambil mempercepat langkah kakiku ke tempat ATM. Eh ternyataaaaa.... si bapak juga mau ke ATM..siallll
Pas keluar, akhirnya ku beri senyum manis saja buat si Bapak...dan beliau hanya terbengong2.. paling juga disangka mantan mahasiswanya..hehe.

Selesai urusanku di bank, aku putuskan untuk menunggu di halte terdekat... aku ingin naik BIKUN (bis kuning) lagiiii... Ketika aku sampai di halte, disana ada jadwal pukul berapa saja si bis akan sampai di halte tersebut... ku lihat jam di tanganku..baru pukul 10. dan yang kulihat di sana, bus pertama akan datang pada pukul 10.21.. haaaaah??? mau jamuran aku disini?? selain itu ada keterangan di bawahnya, bahwa jadwal tersebut tidak berlaku saat libur semester a.k.a saat ini... uuuu yeaaaah..daripada aku lumutan di halte, mending aku lanjutkan perjalananku yang panjang ini...

Angin sepoy-sepoy mengiringi perjalananku menyusuri jalan lingkar luar UI dari MIPA ke FKM.. ternyata banyak yang berubah lho... di dekat FKM dibangun jalan yang aku juga tak mengerti buat apa.. tapi cukup bagus kalau dipakai olahraga oleh masyarakat sekitar...
Saat aku menoleh ke belakang...ternyataaaa ada bikuuuun...huhuhu..
langsung lah aku berlari2 mengejar si bus yang perlahan tapi pasti menuju halte FKM..
hosh...hosh.. berasa mahasiswa lagi 

Horeeee...akhirnya naik bikun lagi... *noraaaak*
dan untungnya aku naik bis, karena tak lama setelah itu hujan deras melanda UI dan sekitarnya..
Ketika turun di halte FH, seperti jaman dahulu kala, karena Fasilkom tidak punya halte yang dilalui bikun.. *menyedihkan* hujan deras menyambutku...
Untuk bawa payung, tapi tetap basah kuyup...huhuhu.

Yaaah, lumayanlah sebagai kenang2an dan napak tilas sebelum aku pergi jauh dari kampus ini... *melankolis mode on*

Rabu, 19 Januari 2011

Habibie & Ainun

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Bacharuddin Jusuf Habibie
Buku ini sungguh luar biasa!!
Tidak hanya bercerita tentang romansa kehidupan sepasang suami istri Habibie & Ainun, tapi juga seperti membaca buku sejarah dari perspektif Pak Habibie yang tidak lain dan tidak bukan salah satu "pahlawan" Indonesia.

Di awal buku, Pak Habibi bercerita bagaimana pertemuannya kembali dengan Bu Ainun yang merupakan mantan teman SMA nya dulu. Pertemuan singkat itu justru menjadi titik awal mereka membangun mahligai rumah tangga yang harmonis hingga 4 windu lamanya. Di dalam buku ini diceritakan juga bagaimana bu Ainun menjadi istri yang setia dan sangat mendukung, bahkan tidak ingin membebani suaminya dengan urusan sepele..Senantiasa tersenyum tanpa beban padahal persoalan senantiasa datang silih berganti.. Jadi malu kalau bercermin pada diri sendiri...hiks.

Saat membaca buku ini, tak jarang aku menitikkan air mata bahkan menangis tersedu-sedu.. terutama di bagian-bagian akhir saat beliau menceritakan proses pengobatan Bu Ainun. Bagaimana setianya beliau di sisi bu Ainun yang sedang berjuang melawan penyakit kankernya.. hingga akhirnya Allah memanggil istri tercinta kembali ke sisi Allah swt. Di bagian lain sebenarnya juga bikin mewek sih.. :D
Saat bu Ainun rela meninggalkan semua aktivitasnya di Indonesia, melepaskan karirnya di RSCM, "hanya" menjadi ibu rumah tangga di Jerman padahal potensi beliau sebagai dokter mungkin akan lebih besar jika terus melanjutkan studinya di Indonesia.. semua itu dilepaskan demi mengurus suami dan anak-anaknya. Bahkan, saat bu Ainun sempat menjadi dokter ana di Jerman pun, lalu si bungsu sakit, beliau sangat merasa bersalah karena sibuk mengurus anak2 orang lain tapi anak sendiri (beliau rasa) kurang terurus..akhirnya beliau memilih kembali untuk jadi ibu rumah tangga saja mengurus kedua buah hatinya dan mendampingi suaminya kemanapun pergi...

Buku ini benar-benar memberikan inspirasi bagi para istri..bagaimana agar menjadi wanita yang hebat dibalik seorang tokoh yang hebat.. Benarlah kata Pak Habibie.. "Di balik kehebatan seorang tokoh, terdapat kehebatan dua wanita di sekitarnya, ibunya dan istrinya..." (kurang lebih seperti ini isinya)

Buku ini semakin menggeser paradigmaku..bahwa seorang istri tidak harus menjadi "tokoh sendiri" di masyarakat.. punya karir yang gemilang di kantornya.. tapi jika anak dan suaminya tidak terurus dengan baik.. apalah arti semua itu.. Termasuk bagaimana peran seorang istri dalam "menjadikan" apa suaminya di masa mendatang.. Mungkin jika Bu Ainun adalah wanita yang "manja", senantiasa mengeluh dan menuntut waktu bagi keluarga kepada suaminya.. mungkin (sekali lagi, mungkin).. Pak Habibie tidak akan menjadi tokoh yang hebat (di mata saya setidaknya) seperti saat ini.

Selain kisah rumah tangga pasangan ini, buku ini juga menyingkap cerita-cerita yang Pak Habibie alami dibalik peristiwa sejarah di Indonesia, seperti bagaimana akhirnya beliau menjadi Menristek selama 4 periode, jadi wapers hingga Presiden RI ke-3.. dan banyak peristiwa sejarah lainnya. Dan yang mengharukan lagi adalah saat peluncuran pesawat terbang karya anak bangsa yang pertama.. Gatotkoco... subhanallah..berdesir rasanya hati ini mendengar cerita beliau.

Dibalik sangat bagusnya buku ini, ada satu hal yang sedikit mengganggu bagiku.. karena buku ini adalah flashback memori penulisnya, maka waktu kejadian seringkali maju mundur antara bab yang satu ke bab berikutnya.

Anyway, buku ini memang highly-recommended untuk dibaca.. ;)

Jumat, 14 Januari 2011

menghitung hari, menyongsong hidup baru...

detik demi detik membawa ku semakin dekat untuk hijrah ke kota kembang..

"kenapa harus pindah?"
"gak jadi pindah kan?"
"udah di sini aja, suami aja yg pindah ke jakarta"

Setidaknya itu pertanyaan dan komentar yang aku terima dari teman2 kantor.. di satu sisi aku senang, artinya teman2 senang dengan keberadaanku di kantor ini (ge er mode on ). Lha iya donk, kalo gak seneng pasti komennya.. "udah sono cepet2 pindah"..hehe.

Tapi di sisi lain,hal itu justru membuatku merasa berat untuk melepas semua ini...
Di sini aku sudah diberikan banyak pelajaran, tidak hanya soal seluk beluk penerapan TI dalam organisasi, tapi juga bagaimana cara berinteraksi dengan orang-orang yang beraneka ragam.. klien dan customer yang silih berganti..

Dulu, saat menjelang kelulusan S1, aku bingung mau kerja apa nantinya..
Ingin jadi IT profesional yang berkarir di perusahaan besar bahkan multinasional, yang berkantor di jalan-jalan protokol sehingga aku dapat menjejakkan kakiku di etalase gedung bertingkat (suka istilah ini dari dulu ) dan melihat landscape ibukota dari atas.
Ingin jadi dosen atau akademisi yang memiliki banyak mahasiswa, berbagi ilmu dan senantiasa belajar hal-hal baru.. ikut penelitian dan seminar di luar kota bahkan sampai mancanegara, menimba ilmu sambil melancong...hehe.
Ingin jadi enterpreneur yang punya bisnis sendiri, punya anak buah yang bisa diatur-atur dan tidak ada yang mengatur-atur...hehehe.. dan yang pasti punya passive income dimanaaa tidak perlu kerja siang-malam tapi duit tetap ngalir *ngimpiiii...*

Kini apa yang telah aku raih?
IT profesional?? hmm.. kurang lebih demikian. Punya banyak klien dari berbagai perusahaan memberiku kesempatan  untukku keluar masuk gedung bertingkat di kawasan jalan protokol itu, bahkan beberapa kali rapat di kantor mereka yang terletak di lantai atas dimana aku bisa melihat pemandangan Jakarta seperti elang yang terbang di langitnya *puitis bangeet * meskipun kantor sendiri hanya di lantai 1, pojokon pula yang gak bisa liat pemandangan apapun... *menyedihkan *

Akademisi?? alhamdulillah diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk mengajar di almamater selama 3,5 semester (3 semester plus 1 semester pendek). Pernah ngajar materi yang teknikal sampai manajerial.. menghadapi berbagai karakter mahasiswa dan dosen tandem (karena tidak pernah megang kelas sendiri..hehe).
Kadang semua itu terasa nikmat, tapi kadang juga bikin tersiksa... stress sendiri klo sudah mendekati deadline, ketemu klien yang bawel dan banyak maunya, dan tiap kali akan masuk ke kelas karena khawatir tidak bisa menyampaikan materi dengan baik atau menjawab pertanyaan dari mahasiswa...
Tapi aku sangat bersyukuuuur sekali... setidaknya aku pernah merasakan kedua mimpiku itu. Meskipun belum sepenuhnya.. (belum sampe ikut seminar ke luar kota apalagi luar negeri )

Lalu bagaimana dengan enterpreneur?
belum tersentuh sama sekali karena belum punya modal yg utama yaitu modal NEKAT alias masih takut rugi, takut gagal, takut ini itu... pokoke banyak lah.
kini, mungkin Allah ingin memberiku kesempatan meraih mimpi yang ketiga ini..
Alhamdulillah diberikan pasangan yang punya pandangan sama.. ingin punya usaha sendiri, tapi tidak hanya berani mimpi.. juga berani mengambil resiko... tentunya dengan strategi dan pemikiran yang mendalam, bersama dengan orang-orang yang lebih dulu mengalami jatuh-bangun jadi enterpreneur...
inikah jalanku yang baru??

Meskipun pertanyaan yang paling banyak ditujukan padaku..
"nanti mau kerja dimana?", "sudah apply ke mana aja?"
kalau memang takdir Allah untukku mencoba jadi enterpreneur, kenapa tidak??

Tapi yang pasti, yang kuinginkan adalah..
to be a great wife for a great man..
to be a great mother for great children..
to be a great daughter for a great parents..
to be a great woman for a great community...
amiiien..