36 hari sudah aku menjalani peranan sebagai housewife alias ibu rumah tangga. Setelah resign dari kantor akhir januari kemarin, aku langsung hijrah ke kota kembang.. Alhamdulillah akhirnya bisa berkumpul dengan suami setelah hampir setahun (saat itu) kami menikah. Dan sekarang, resmilah aku secara de facto (belum secara de jure secara belum punya KTP bandung =P) menjadi warga bandung.
Sejak sebelum resign, kala itu teman dan keluarga memang sering menanyakan apakah aku sudah mendapatkan tempat kerja baru di bandung nantinya. Dengan santai aku menjawab "belum, mau istirahat dulu". Ya, saat itu, mungkin karena aku sedang dihadang oleh kerjaan yang bertubi-tubi sampai sulit bernapas rasanya (lebay deh ah..hehe) yang ada dalam pikiranku hanyalah istirahat di rumah, menikmati hari-hariku tanpa ketemu klien, tanpa tuntutan deadline, dan tanpa bermacet ria di jalanan. Ketika kerjaan menumpuk, aku dan suami memang sudah merencanakan untuk hanimun lagi setelah aku resign, yaitu di bulan februari. Hitung-hitung sekalian refreshing dan memberi hadiah pada diriku sendiri atas kerja keras selama ini (maklum, dari kantor gak difasilitasi.. =D)
Lalu apa yang aku lakukan sepanjang hari di rumah? Memasak. Kegiatan baru ini awalnya sangat aku nikmati. Masak lauk pauk maupun sekedar camilan sebagai eksperimenku dari hasil hunting resep di internet...hehe. Dan yang lebih bahagia lagi adalah ketika melihat suami memakannya dengan lahap. Alhamdulillah.. Selain memasak, tentu saja kegiatanku adalah bersih-bersih rumah dan bersantai ria menikmati hiburan di televisi.
Sebulan menjadi housewife hampir dipastikan kerjaanku itu-itu saja. Dan ujian keikhlasan pun mulai berdatangan satu per satu. Suami yang bekerja diluar jam kantor pada umumnya, maklum dokter gigi yang kebanyakan praktek malam, membuatku harus lebih banyak sendiri di rumah. KESEPIAN. Sedangkan paginya suami juga sering ada aktivitas yang lain. Masakan yang aku buat pun kadang harus aku makan sendiri karena suami tidak sempat pulang ke rumah untuk makan atau mendapat undangan dari teman-temannya. KECEWA. Alhasil, tak jarang aku uring-uringan terhadap suamiku, minta perhatian. Tapi suamiku hanyalah manusia biasa. Lelah aktivitas seharian membuatnya kadang tak menggubris kemanjaanku itu. SEDIH. Belum lagi perubahan pola hidupku yang dulu selalu sibuk eight-to-five, dengan segala dinamika dan pencapaiannya, kadang membuatku CEMBURU dengan kesibukan suami di luar sana.
Keinginan untuk kembali beraktivitas rutin di luar rumah pun kembali muncul. BEKERJA. Yaa, aku ingin bekerja. Fully-housewife (not fully-mother) sepertinya bukan "pilihan" hidupku. Bekerja bukan hanya untuk mencari tambahan uang belanja, tapi lebih kepada mengekspresian diri, mencari pencapaian-pencapai sebagai salah satu kebutuhan manusia menurut need's pyramid (teori siapa ya?? lupa). Sebenaranya suami sudah setuju dan membolehkan pilihan profesi apapun yang aku mau, asal tetap bisa menempatkan prioritas bagi keluarga jika sudah punya momongan nanti. Tapiiii, aku juga belum beranjak dari posisi ku saat ini.. BINGUNG. Don't know what I want! Membuatku semakin desperado...huhuhuhu T_T
Yah, apapun pilihan profesi yang aku pilih dan Allah pilihkan untukku nanti, semoga tidak membuaku menjadi semakin desperate. Not as a housewife either a career woman.. =(