Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

New Catatan Hati Seorang Istri

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Asma Nadia
Ketika pertama kali Mba Asma Nadia gembar-gembor menerbitkan kembali buku ini di FB, aku sudah menambahkannya ke dalam list buku yg ingin ku baca. Tapi karena jarang ke toko buku, jadi baru kesampaian sekitar sebulan lalu. Itupun beli online pas ada promo diskon paket dengan No Excuse!. Akhirnya, kesampaian juga baca bukunya..hehe.

Sama seperti buku2 Asma Nadia lainnya, buku ini memuat berbagai tulisan pendek mengenai curhatan atau pengalaman beliau terkait kehidupan seorang istri. Hanya dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menyelesaikan baca buku ini.

Overall saya sangat suka buku ini. Memberikan nasihat tapi tidak menggurui. Tak terhitung berapa kali aku mencurahkan air mata membacanya.. (dasar cengeng...hehe). Tapi, buku ini seolah kurang 'adil' memaparkan kehidupan seorang istri. Hampir semua ceritanya tentang perselingkuhan, kekerasan, pengkhianatan, dan "kekejaman" para suami lainnya terhadap wanita yg telah mengorbankan banyak hal untuk mendampingi hidupnya dan membesarkan anak-anaknya. Sedikit sekali cerita yang mengkisahkan sosok suami yg "pantas dikagumi".

Memang, kehidupan rumah tangga tidak hanya hal-hal yg indah saja. Mempertahankan cinta adalah sebuah perjuangan yg tiada akhir. Jika tidak kuat iman, maka akan mudah tergelincir ke jurang kehancuran. Bukankah iman itu naik dan turun?
Jatuh cinta lagi. Mengapa seperti sebuah ujian yg "pasti" menghampiri setiap pasangan dan menjadi alasan klise untuk mengkhianati pasangan yang telah diikrarkan untuk dijaga dengan penuh kasih sayang. Meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, tapi bukan menjadi pembenaran untuk mengakomodir rasa cinta yg datang tidak pada waktunya. Bahkan sepasang suami-istri yang dinobatkan sebagai pasangan yg sakinah, yg ideal, yg harmonis, dan berbagai sebutan manis lainnya, bisa hancur saat salah satu dari mereka jatuh cinta lagi pada orang lain.

Setelah membaca buku ini, saya jadi mellow....huhuhu.
Ada perasaan takut, bagaimana jika suatu hari ujian seperti itu hadir dalam perjalanan cinta kami? apa yg harus ku lakukan? mampukah aku untuk mempertahankannya menjadi milikku seorang?
Jika aku bisa menentukan takdir, aku ingin hanya berjodoh dengan suamiku seorang dan dia menjadi jodohku saja, hingga di yaumul akhir nanti...
Tapi takdir itu hak prerogatif Allah.. manusia hanya bisa menjalaninya dengan usaha yg terbaik..

"sudah, gak usah yg mikir yg aneh2.. perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yg perlu dipikirkan saat ini" begitu kata suamiku membuyarkan lamunanku di suatu senja :)

Senin, 06 September 2010

Mudik Lebaran

Idul Fitri 1431 H..

Insya Allah tahun ini aku akan kembali menjalani tradisi mudik lebaran (pulang kampung di hari lebaran).. Terakhir kali aku mudik adalah 3 tahun lalu. Sejak kakak kedua menikah dan melanjutkan pendidikan ke spesialis, ia jadi tak bisa pulang. Belum lagi kakak pertama yang anaknya masih kecil-kecil... repot kalo jalan jauh. Jadi, tinggal akulah satu2 nya yang masih available untuk mudik. Alhasil, selalu papa mama lah yang "mudik" ke Jakarta (dasar anak tak berbakti...hehe).Selain karena alasan-alasan itu, kalau ortu yang ke Jakarta jadinya lebih hemat ongkos tho.. ?? nge-lawan arus lagi, jadi tidak perlu berdesak-desakan.. 

Tiga tahun lebaran ke Jakarta. Tak banyak saudara yang bisa kami kunjungi karena sebagian besar juga pada mudik. Akhirnya pilihan pun jatuh ke tempat hiburan dan mal-mal di sini. Hmm... ternyataaaa tempat hiburan pas hari Lebaran ruameeee bangeeet... kirain orang jakarte pada mudik semua, soalnya jalana sepiiii... huhuhu.

Tapi tahun ini, akan lain cerita. Untungnya aku dan suami punya tujuan mudik yang sama, Palembang. Rencana semula ortu tetap akan ke Jakarta, berhubung kakak kedua belum lulus juga, jadi tidak bisa pulang lama-lama. Dan aku, tetap harus mudik karena menemani suami yang mau berlebaran di Palembang. Huhuhuhu.... pisah sama ortu deh. Beginilah konsekuensi kalau jadi istri, tidak bisa "nempel" terus sama ortu..

Tiba-tiba rencana berubah. Ortuku berubah pikiran, mau lebaran di Palembang saja katanya. Soalnya keluarga di Jakarta juga pada mudik. Dan Alhamdulillah, ternyata kakak keduaku bisa libur 3 hari pas di hari lebaran... Yo wes, jadi juga mudik rame2 lebaran ini, insya Allah..

Bagaimana ya kira-kira pengalaman lebaran tahun ini???
mengingat inilah lebaran pertamaku dengan status sebagai seorang istri

we'll see....

Selasa, 13 April 2010

jadi ibu rumah tangga, mau??

Beberapa waktu lalu aku sempat bilang pada suamiku.. "aku mau jadi ibu rumah tangga aja ya.." dan suamiku hanya mengiyakan. Padahal saat itu sebenarnya aku masih bingung untuk memilih jalan karirku jika sudah pindah ke Bandung nanti. Memang kami berencana untuk pindah dari Jakarta yang sudah sumpek ini, memulai kehidupan baru biar gak long-distance lagi..hehe. Tapi beberapa teman yang mendengar wacana ini sebagian mengatakan... "sayang pit, udah bagus keterima dosen di UI" yeaaah...

Memang, karir sebagai dosen sepertinya pilihan yang cukup baik bagi seorang wanita yang sudah berkeluarga. Jam kerja yang fleksibel. Klo ada keperluan mendadak, kelas bisa di-reschedule atau kasih tugas ke mahasiswanya. Lingkungan yang kondusif dan bisa bawa anak ke kantor. Klo masuk kelas, anaknya bisa titip di ruangan, ya kan?? hehe.

Tapiii sepertinya klo aku bertahan di sini malah jadi desperate lecturer...hohoho. ahh, yang ini gak usah dibahas di sini lah.. soalnya subjektif sekali

Lalu bagaimana kalau jadi ibu rumah tangga saja? apalagi kalau nanti sudah punya anak.. bakalan sibuk deh ngurusin anak. ditambah lagi jauh dari orang tua, jadi gak bisa nitip anak klo kerja..hehe. Tapi setelah melihat seorang teman yang sudah punya 2 anak, dan "mengeluh" dengan statusnya sebagai full-time mother, sepertinya di rumah seharian itu membosankan dan cukup menyiksa.. (lebay gak sih??) Akhirnya kemarin sempat berbincang-bincang dengan seorang wanita yang pernah punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga dan kembali menjadi ibu pekerja.. (makasih ya mba shinta, cerita yang amat berharga )

Mengapa wanita ingin bekerja?? Kalau alasan utamanya adalah ekonomi, yaah itu sih gak perlu dibahas lagi. Meskipun mencari nafkah adalah tugas suami, tapi klo emang tidak mencukupi..apalagi jaman sekarang yang apa2 serba mahal, istri ikut mencari uang untuk kebutuhan rumah tangga bukan suatu hal yang aneh. Nah, klo pendapatan suami sudah mencukupi, apakah si istri masih perlu bekerja?? kesimpulan dari perbincangan kemarin jawabannya adalah YA (apalagi untuk wanita2 yang terbiasa aktif semasa lajangnya dulu). Kenapa? Kadang, wanita bekerja itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mengekspresikan dirinya, cari kesibukan lain diluar rutinitas mengurus anak dan rumah, mencari kepuasan sosial, dsb. Katanyaaa (maklum blom berpengalaman jadi housewife..hehe) klo dah suntuk dengan rutinitas rumah, maka si ibu ini bisa tidak optimal dalam mengurus anaknya, melayani suaminya.. karena ada kebutuhan emosional yang tidak tersalurkan. Ujung2nya jadi beteee aja di rumah.

Lalu, gimana solusinya?? Yaa seorang wanita harus bisa memilih-milih pekerjaan yang bisa memberikan kepuasan padanya, tapi tetap bisa memprioritaskan keluarganya. Misalnya, jadi tenaga freelance.. bisa kerja dari rumah, tapi tetap ada pencapaian tersendiri, atau berwirausaha, ikut seminar2 dan kursus2., dan sebagainya. Pokoknya ada kesibukan lain aja. Tapi sebenarnya tergantung wanitanya juga sih. Kalo manajemen waktunya bagus, kerja kantoran yang punya waktu kerja 8 jam sehari, ditambah lembur-lembur dsb, sepertinya juga bukan pilihan yang buruk. Apalagi lingkungan disekitarku, mayoritas adalah wanita pekerja. Dan sepertinya mereka sukses2 aja tuh mengurus anak2 dan rumah tangganya...

Nah, pas diskusi ini akhirnya aku jadi mikir juga.. klo nanti aku "terpaksa" harus stop bekerja di kantor, dan sudah punya baby... enaknya ngapain ya?? Mau wirausaha, belum punya nyali. Mau jadi freelance, punya bakat apa ya?? Apa jadi penulis aja seperti suamiku?? emang bisa???hahaha....huu..bingung.

Pilihan yang sepertinya berpeluang besar yaa jadi dosen... secara modal sudah ada. Pendidikan dan pengalaman mengajar sudah dikantongi. Aman laaah.. Tapi, yakin mau jadi dosen??? padahal tiap klo mau masuk kelas yang ada bawaannya stress...fiuuuh.

Rabu, 31 Maret 2010

Sandal Cinta

disini aku ingin menuliskan tetang kado ultah pertama dari suamiku... mungkin aku bukan pujangga seperti dirinya yang dapat merangkai untaian kata menjadi indah untuk dibaca... mari dimulai..

27 Maret 2010, adalah ulang tahun pertamaku dengan status sebagai istri. Sebulan sebelumnya, 27 Februari 2010, seorang lelaki telah halal dan resmi secara negara menjadi suamiku (bukan nikah siri lho..hihihi). Beberapa hari menjelang miladku itu, entah kenapa aku mendadak jadi "manja" (padahal sehari-harinya juga kok :p). Aku sms suamiku untuk memintanya pulang ke jakarta pada hari Jumatnya, bukan untuk menghabiskan waktu hingga pukul 12 malam, tapi aku ingin ketika membuka mataku di umur yang telah mencapai seperempat abad itu, suamiku adalah orang pertama yang aku lihat.... (gak penting banget sih :p). Tapi, karena ada kebutuhan mendesak dan penting lainnya, suamiku tidak bisa memenuhi keinginanku itu.

Dua hari sebelumnya, kalo tidak salah, suamiku sempat menanyakan ukuran sepatu dan merk yang aku suka. Maklum, pasangan baru, jadi blom hafal ukuran sepatu pasangannya...hehe. Waah, ketahuan dong kadonya?? Dalam benakku, dia akan memberikan sepasang sepatu dengan hak tinggi yang memang sering kupakai saat di palembang. Lalu ku katakan padanya, "tidak usah, klo mau beliin sepatu, nanti aja. Takut aku gak nyaman makenya"

H-1 sebelum miladku, suamiku mengirim SMS dan mengatakan klo kadonya sudah dibeli. Hmmm, kira2 kado apa ya? apakah tetap sepatu seperti rencana semula? Esok pagi, di hari ultahku, tak sengaja aku membaca note di FB yang ditulis oleh suamiku dan ditujukan untukku. Oya, notesnya juga ada di sini... http://mymino.multiply.com/journal/item/3/Kado_Pertama. Setelah membaca notes itu, aku jadi makin penasaran... kado spesial apakah yang sudah disiapkan oleh suamiku ya? hmm...

Sore harinya, suamiku akhirnya tiba dari Bandung. Tak lama, ia pun memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi dengan kertas kado yang cantik. Ketika ku buka... ternyata isinya adalah sebuah sandal teplek (baca: low-heels :D). Kenapa sandal?? memoriku menarik kembali untaian kata yang ia tulis di note-nya.

"Ternyata berharganya kado pertama tadi tidak hanya terletak pada uniknya bersouvenir novel hasil karya pengantin, tidak hanya karena bertepatan dengan momen hari istimewa pernikahan, tapi karena nilai kesungguh-sungguhan untuk memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu. Kalau memang demikian sebenarnya titik sumbunya, maka kado kedua, ketiga, dan seterusnya insya Allah, akan tetap bisa berkelas jika ada kesungguh-sungguhan cinta didalamnya."

Aku jadi ingat bagaimana ketika di palembang aku mengeluh kesakitan setelah seharian jalan menggunakan sandal high-heels karena sandal teplek ku hilang setelah hari akad nikahku di rumah. Maklum, kebanyakan tamu dan sanak family yang datang dan pergi, jadi mungkin saja sandalku itu terpakai dan terbawa entah ke mana.

Ouuww.. aku jadi terharu...ternyata suamiku menganggap hal itu bukan hal yang "biasa".. itulah wujud perhatian dan cintanya padaku yang "menderita" karena tidak punya sandal teplek yang nyaman untuk dipakai jalan seharian...=D

terima kasih suamiku... terima kasih atas sandal cintanya

Selasa, 23 Maret 2010

Diantar-jemput suami

Dulu, ketika masih lajang aku suka mupeng klo melihat teman kantor yang diantar-jemput ama suaminya ke kantor. Atau, sama temen kantor yang antar-jemput istrinya (maklum, di kantor mayoritas bapak2 muda...hehe). Sempat kepikirian, pingiiin kayak itu. Walaupun ke kantor aku bawa kendaraan sendiri, gak harus naik turun angkutan umum, tapi tetap ada keinginan untuk "manja" diantar-jemput ama suami tercinta.

Sekarang Alhamdulillah sudah Allah pertemukan aku dengan jodohku. Tapi, karena masih ada amanah masing-masing yang harus diselesaikan maka kami belum bisa bersatu, tinggal serumah layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Alhasil, meskipun sudah ada suami, tetap saja aku harus pulang pergi kantor dengan nyetir sendiri... tapiiii, yang tinggal serumah pun belum tentu bisa diantar jemput sama suaminya, ya kan?? misalnya karna letak kantor yang saling menjauhi, jadi kalau suaminya antar-jemput malah bikin repot. atau emang gak punya kendaraan pribadi :D

Namun, senin kemarin Allah memberikan aku kesempatan untuk merasakan apa yang pernah aku impikan.. di antar-jemput oleh suami, bahkan ditunggin selama kerja..hehehe. Senangnyaaaaa ^^. Karena kemarin ada suatu urusan di jakarta yang harus kami lakukan bersama, suami pun terpaksa membolos sehari dari aktivitas rutinnya di bandung. Tapi kasihan juga ama suamiku yang harus nunggu berjam-jam sampai waktu pulang kantor, bahkan lebih... (maaf ya sayang =D)

Tapi, kadang kala... aku juga suka kasihan sih lihat para suami yang sudah capek kerja seharian, harus jemput istri pula di tempat kerjanya yang jaraknya lumayan berjauhan. Padahal kantor suaminya lebih dekat dengan rumah. Gak bisa pulang sendiri apa ya? hehehe..

anyway, harusnya emang kegiatan antar-jemput ini bukan "tugas" suami, toh suami bukan sopir istri, tapi kalau si suami melakukannya dengan suka rela, hati bahagia.. sebagai bentuk cintanya kepada istri, bukan karena "terpaksa", semoga mendapatkan nilai pahala dalam hidup berumah tangga =)

untuk para suami.. ikhlas ya "memanjakan" istri yang bekerja =D