Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Maret 2010

Wedding theme

Cerita ini bisa dibilang behind the scene proses pernikahanku yang Alhamdulillah sudah berlangsung dengan lancar (dan semoga berkah) pada tanggal 27 Februari 2010 yang lalu.

Ketika membagi undangan 3 pekan sebelum hari H kepada teman-teman kantor, banyak yang nanya.. "Temanya biru muda ya?" Tak heran bila mereka bertanya seperti itu melihat undanganku berwarna biru muda, warna kesukaanku. Tapi aku tidak langsung mengiyakannya kalau kubayangkan lagi warna baju adat untuk resepsi, warna pelaminan, seragam orang tua, saudara, tante-tante, dll. Awalnya memang aku menginginkan tema pernikahanku adalah biru muda, seperti kakak keduaku yang temanya adalah PINK, warna favoritnya. Tapiiiiiiii.... apa mau dikata.. pas datang ke sanggar untuk menyewa gaun pengantin dan perangkat2 lainnya.... ada sih warna BIRU MUDA seperti yang kumau..tapiiiii ukurannya tidak pas denganku (tangannya sedikit gantung) dan warnanya sudah pudar karna mungkin sudah sering dipakai orang. Akhirnya, mengikuti kata mama, dipilihlah warna MERAH MARUN. oh yeaaaah.. hancur sudah wedding theme kuu. Undangan sudah terlanjur dipesan warna biru muda...huhuhu.

Tapi entah kenapa, pas aku membeli seragam orang tua, aku tidak menyesuaikannya dengan warna yang ku mau..BIRU, malah beli MERAH MARUN seperti yang dipesan mama. Alasannya.. "mama belum punya kebaya merah marun"
Pas beli seragam sodara, malah milih warna biru.... setelah mengikuti egoku yang tetep mau ada nuansa biru..hehe
Pas beli seragam panitia, eeeeh, malah warna orange...ho..ho..ho...

Mendekati hari H, makin terlihat wedding theme-nya... PELANGI... :D

Pelaminan di rumah yang tadinya dipesan ada nuansa adat Palembang, malah diganti sepihak oleh pihak penyewa (katanya sih dah konfirm ke mama...), ditambahin bunga2 ala Cap Go Meh...hahaha.. mungkin dipikirnya karena bertepatan dengan momen itu kali ya..
yo wes lah..pasrah aja. Walaupun awal2 sempet dongkol juga dan ngedumel ama mama (ooopsss :D) tapi ya udahlah mau diapain lagi?

Ketika calon suamiku (saat itu) mengantarkan sovenir  ke rumah, tile pembungkusnya ternyata berwarna MERAH MARUN..padahal sebelumnya sudah dipesan warna biru tua aja karena kartu ucapan terima kasihnya ikut warna undangan..BIRU. Ternyataaaaa... entah kesalahan ada di siapa, tapi katanya kesepakatan terakhir adalah MARUN. o la la la....

Meskipun di rumah papa sudah usahakan semua bernuansa biru... dari tenda, meja catering, sampe gorden baru... mengikuti warna baju pas akad. Tapi pas resepsi di hotel... makin terkejut lagi dan speechless. Pelaminan yang tadi kubayangkan pake adat palembang, lagi2 diganti sama pihak hotel dengan MODERN MINIMALIS bernuansa HIJAU...oh yeaaaaah... aku dan suami hanya pasrah memandanginya... dalam hati hanya berdoa.. SEMOGA BAROKAH aja deh. Disini baru merasakan, untung juga sovenirnya merah marun, jadi sama dengan gaun pengantin yang aku pakai... :)

yah, itulah sekelumit kenangan soal pernikahanku.. meskipun biasanya orang-orang menentukan semua pernak-pernik itu dalam satu warna yang sama, tapi kami melakukan hal yang LUAR BIASA... dengan wedding theme kami adalah PELANGI ^__^

Rabu, 10 Maret 2010

Gradasi - Kupinang Engkau dgn Al Qur'an




mengingat nasyid ini akan mengingatkan aku saat walimah kami...
my hubby sang it for me ^__^

Jumat, 19 Februari 2010

"Gimana rasanya?"

Beberapa hari belakangan ini cukup banyak teman2 yang menanyakan padaku..
"Gimana rasanya mo nikah? deg-degan ya...??"

Awalnya aku hanya menjawab.."Biasa aja tuh, malah lebih deg-degan klo disuruh ngajar di kelas...hehe" Mungkin nanti klo sudah pulang ke palembang, pas tahu apa-apa saja persiapan yang belum beres...nah, itu yang bisa bikin deg-degan. Maklum, semuanya dipersiapkan sendiri oleh orang tua plus kerabat (gak pake WO-WO an).

Tapi, hari demi hari ku lalui.. ku tanya pada diri sendiri, pada hati nurani... "deg-degan gak sih??"
karena sering dirasa-rasa akhirnya benar-benar terasa deg-degannya...ha..ha..ha...
Bukan cuma deg-degan karena takut ada yang kurang untuk persiapan acara, tapi juga menjelang pernikahan itu sendiri... mitsaqon gholizon, saat yang dulu haram menjadi halal, bahkan dapet pahala.

Sudah siapkah aku? (biasanyakan deg-degan itu karena belum siap)
Siapkah aku untuk hidup bersama seseorang yang sebelumnya tidak ada disisiku..
Siapkah aku untuk menerima segala kelebihan dan kekurangannya...
Siapkah aku untuk tidak sebebas dulu, kemana2 semaunya, apa2 sesukanya...
Siapkah aku untuk menjadi istri baginya, anak bagi orang tuanya, saudara bagi sanak familinya...
Siapkah aku untuk hidup bermasyarakat, bertetangga, bersosialisasi... (beda donk klo dah berkeluarga dengan masih gadis..hehe)
Siapkah aku untuk lebih bertanggung jawab, lebih mandiri...
Siapkah aku untuk ...
ahhh, masih banyak pertanyaan dalam hatiku yang kadangkala membuatku merasa... "aku belum siap"
(Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan syetan yang terkutuk...)

Tapiii... aku teringat pada sebuah nasyid dari Suara Persaudaraan..
Apabila telah tiba masaku, untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan Allah berikan, Insya Allah janjiku segera ku tunaikan

Tapi bila kuraba dalam hati, datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini, berdegup jantung di dada kendalikan diri

Namun pernikahan begitu indah ku dengar, membuat ku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang, hatiku selalu maju mundur dibuatnya

Akhirnya aku segra tersadar, Hanya pada Allah-lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar, Insya Allah azzamku akan terwujud lancar

Semoga Allah memberkahi jalan ini.... mohon do'a dari semua..

Minggu, 14 Februari 2010

:: E-Invitation : Pernikahan Pita & Didi

http://wedding.journey-to-heaven.com
Sebuah catatan perjalanan menuju surga-Nya..
dimulai dengan langkah pertama... menikah.

Semoga Allah ridho dengan langkah kami ini dan mempersatukan kami dalam keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.. hingga akhir hayat kami dan disatukan-Nya kembali di surga kelak..

amiin

Rabu, 10 Februari 2010

Cinta dan Pernikahan

Orang bilang, cinta tidak membutuhkan alasan.. maka jangan pernah tanyakan pada orang yang mencintaimu "mengapa kau mencintaiku?"

Tapi menikah membutuhkan alasan.. salah satunya adalah cinta. Alasan umum bagi banyak orang ketika ditanya "mengapa kau menikahiku?" maka jawabnya adalah.. "karena aku mencintaimu".

Cukupkah hanya cinta?

Saat kita memilih atau menerima seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita selamanya, bahkan sampai di akhirat kelak, cukup kah HANYA CINTA yang menjadi alasannya?

Ada orang yang bilang, seharusnya cinta datang setelah pernikahan... Itu berarti cinta (kepada pasangan) bukan menjadi alasan untuk menikah bagi mereka. Lalu apa yang menjadi landasan mereka menentukan pilihan? Pasangan yang seakidah? Yang akhlaknya baik? Yang sholat wajib dan sunnahnya rajin? Yang baca Al-Qur'an nya bagus, tahsin? Atau mungkin sampai tahfidz? Yang mau berjihad ke Palestina? Banyak kriteria yang bisa digunakan untuk menilai seseorang memiliki "agama" yang baik, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Lalu bagaimana jika CINTA menyapa lebih dulu? Salahkah? Haramkah? Dosakah?

CINTA memang tak harusnya menjadi satu-satunya alasan untuk menikah, untuk menentukan pilihan... Butuh alasan lain agar dapat menjaga cinta itu tetap berada pada tempatnya..menjaganya... abadi selamanya.

Carilah alasan lain itu...

Dan tahukah kau dimana harus mencarinya?

Selasa, 12 Januari 2010

sebuah tulisan dan doa...

Untuk Calon Suamiku…..
Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai calon suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal ‘alamin.

copas dari: http://auliyaa.blogdetik.com/2009/02/25/untuk-calon-suamiku/

Minggu, 20 Desember 2009

Cinta tak kan salah

aku, dirimu, dirinya.. tak akan pernah mengerti tentang suratan. aku, dirimu, dirinya.. tak resah bila sadari cinta takkan salah...

Itulah sepenggal syair milik Kahitna yang diputar di mobil sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung akhir pekan lalu. Lagu itu mengingatkanku pada seorang teman, ummm..mungkin beberapa orang wanita, yang kebetulan curhat padaku setelah dan menjelang pernikahan mereka.

Kisah I - sekitar 5 tahun lalu

H-1 hari yang berbahagia itu, seorang wanita 'curhat' padaku "si fulan (teman SMU-nya yg saat itu sedang menimba ilmu di negeri orang) kemarin SMS, dia tanya kenapa aku nikah secepat ini, aku masih terlalu muda... aaah, kenapa dia gak bilang dari dulu? kalau tahu dia suka padaku, aku akan menunggunya.." begitulah kira-kira.

Kisah II - sekitar 2 tahun lalu

Beberapa hari sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, seorang wanita (lainnya) 'curhat' (juga) padaku "aku yakin kalo si fulanA (temannya kuliah) suka ama aku, kenapa dia gak mau bilang? kalau dia mau, aku akan tinggalkan si fulanB dan memilih dia..." begitula kira-kira kisa si wanita yg sudah terlanjur berkomitmen dengan si fulanB terlebih dahulu.

Kisah III - sekitar beberapa bulan lalu

seorang wanita sharing tentang kisah ta'arufnya dengan sang suami... "Sebenarnya yang aku nantikan dulu bukan dia. Tapi karena si fulan gak berani untuk ngajakin ta'aruf, dan kebetulan ada proposal yang masuk, ya udah..aku istikharah aja..."

Mungkin masih banyak kisah-kisah lain yang serupa dengan ketiga wanita yang aku kisahkan di atas. Menikah bukan dengan pria yang ia inginkan awalnya. Tapi wanita juga tidak ingin menunggu terlalu lama dan "digantung" tanpa ada kejelasan. Dari ketiga cerita tersebut, si pria hanya berani memberi perhatian tapi tak berani mengatakan dengan tegas tentang apa yang dirasakannya yg mungkin sama dengan apa yang disangkakan oleh para wanita itu. Dan sang wanita tak berani utk bertanya.. takut salah sangka dan terlukalah hatinya. Akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu... namun penantian itu ada batasnya. Hingga datanglah seorang lelaki yang berjiwa ksatria mengajaknya mengarungi hidup bersama dan menyudahi penantiannya. Sekarang. Saat ini. Bukan nanti-nanti. Dan babak baru kehidupanpun dimulai. Memupuk cinta baru dan mimpi-mimpi baru...

Mungkin ada di antara wanita itu yang menyesali keputusannya saat badai datang mendera. Tapi ada juga yang sangat bersyukur telah dipertemukan dengan orang yang tepat untuk menjadi kekasihnya. Dan seperti apa yang dikatakan Kahitna bahwa cinta tak kan salah.. So, jangan kau sesali apa yang sudah terjadi..karena kau telah memilih untuk menerimanya.

Menikah dengan orang yg kita cintai adalah keberuntungan, dan mencintai orang yg kita nikahi adalah kewajiban

~ngomong opoooo iki??? xD

Rabu, 02 Desember 2009

(lagi-lagi) Tentang Pernikahan.. :D

PERNIKAHAN ADALAH KESUCIAN....
DAN JALAN MENUJU PERNIKAHAN TENTUNYA HARUS SESUCI PERNIKAHAN ITU PULA...!!!

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….

~di copas dari blog lain, tapi karena panjaaaaaaaang banget, jadi diambil cuplikannya aja :p

artikel lengkapnya bisa dibaca di: http://rayabertasbih.multiply.com/journal/item/21/ATAS_NAMA_TAARUF

Senin, 02 November 2009

Menyegerakan Menikah vs Tergesa-gesa Menikah

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (menikah) dari antara hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan yang perempuan
." (QS. An-Nuur:32)

Ayat di atas menegaskan tentang pentingnya menikah hingga menjadi perintah untuk menikahkan orang yang masih sendirian. Namun ayat tersebut juga tidak memerintahkan seseorang untuk menikah `buta’, sebab terdapat penekanan kata `layak’ yang harus menjadi pertimbangan. Menikah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh
dipandang sebelah mata. Menikah adalah fitrah bagi manusia dan sejalan dengan anjuran Allah serta RosulNya. Pernyataan Rasulullah SAW dalam hadist berikut dapat menjadi bahan renungan yang bisa membantu memantapkan hati: "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."

Allah akan menjamin siapapun yang mau menikah. Tetapi tetap saja harus ada persiapan yang dilakukan. Karena menikah bukanlah pekerjaan yang akan selesai dalam waktu dekat. Bahkan bisa jadi memakan waktu sepanjang sisa umur pasangan tersebut di dunia ini. Sehingga perencanaan yang matang mutlak diperlukan. "Orang yang mempunyai niat
yang tulus adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk Allah dalam segala perkara
.."  Begitu ucap Ja’far ash Shiddiq, guru dari Imam Abu Hanifah. Menurutnya seseorang yang
menyegerakan menikah karena niat yang jernih Insya Allah hatinya akan diliputi oleh perasaan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Berbeda dengan menikah tergesa-gesa yang selalu ditandai oleh perasaan tidak aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu.

Ada sebuah perumpamaan tentang pernikahan dalam buku "Kado Pernikahan Untuk Istriku": Menikah itu seperti orang yang sedang mengendarai motor dan menjumpai tikungan yang tajam, apakah dia akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat sampai atau dia mengurangi kecepatan sedikit, membelok, dan kembali
meningkatkan kecepatan perlahan-lahan? Jalan hidup ini begitu panjang. Menikah merupakan salah satu rute yang harus dilalui oleh manusia, sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk
hidup yang diciptakan berpasang-pasangan. Menikah ibarat menapaki titian pelangi. Ada bagian yang mendaki dan memerlukan curahan energi ekstra dan adapula bagian yang menurun yang menawarkan kesenangan, kedamaian serta ujung kisah yang penuh pesona.

sumber (dan lebih lengkap): http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/