aku, dirimu, dirinya.. tak akan pernah mengerti tentang suratan. aku, dirimu, dirinya.. tak resah bila sadari cinta takkan salah...
Itulah sepenggal syair milik Kahitna yang diputar di mobil sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung akhir pekan lalu. Lagu itu mengingatkanku pada seorang teman, ummm..mungkin beberapa orang wanita, yang kebetulan curhat padaku setelah dan menjelang pernikahan mereka.
Kisah I - sekitar 5 tahun lalu
H-1 hari yang berbahagia itu, seorang wanita 'curhat' padaku "si fulan (teman SMU-nya yg saat itu sedang menimba ilmu di negeri orang) kemarin SMS, dia tanya kenapa aku nikah secepat ini, aku masih terlalu muda... aaah, kenapa dia gak bilang dari dulu? kalau tahu dia suka padaku, aku akan menunggunya.." begitulah kira-kira.
Kisah II - sekitar 2 tahun lalu
Beberapa hari sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, seorang wanita (lainnya) 'curhat' (juga) padaku "aku yakin kalo si fulanA (temannya kuliah) suka ama aku, kenapa dia gak mau bilang? kalau dia mau, aku akan tinggalkan si fulanB dan memilih dia..." begitula kira-kira kisa si wanita yg sudah terlanjur berkomitmen dengan si fulanB terlebih dahulu.
Kisah III - sekitar beberapa bulan lalu
seorang wanita sharing tentang kisah ta'arufnya dengan sang suami... "Sebenarnya yang aku nantikan dulu bukan dia. Tapi karena si fulan gak berani untuk ngajakin ta'aruf, dan kebetulan ada proposal yang masuk, ya udah..aku istikharah aja..."
Mungkin masih banyak kisah-kisah lain yang serupa dengan ketiga wanita yang aku kisahkan di atas. Menikah bukan dengan pria yang ia inginkan awalnya. Tapi wanita juga tidak ingin menunggu terlalu lama dan "digantung" tanpa ada kejelasan. Dari ketiga cerita tersebut, si pria hanya berani memberi perhatian tapi tak berani mengatakan dengan tegas tentang apa yang dirasakannya yg mungkin sama dengan apa yang disangkakan oleh para wanita itu. Dan sang wanita tak berani utk bertanya.. takut salah sangka dan terlukalah hatinya. Akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu... namun penantian itu ada batasnya. Hingga datanglah seorang lelaki yang berjiwa ksatria mengajaknya mengarungi hidup bersama dan menyudahi penantiannya. Sekarang. Saat ini. Bukan nanti-nanti. Dan babak baru kehidupanpun dimulai. Memupuk cinta baru dan mimpi-mimpi baru...
Mungkin ada di antara wanita itu yang menyesali keputusannya saat badai datang mendera. Tapi ada juga yang sangat bersyukur telah dipertemukan dengan orang yang tepat untuk menjadi kekasihnya. Dan seperti apa yang dikatakan Kahitna bahwa cinta tak kan salah.. So, jangan kau sesali apa yang sudah terjadi..karena kau telah memilih untuk menerimanya.
Menikah dengan orang yg kita cintai adalah keberuntungan, dan mencintai orang yg kita nikahi adalah kewajiban
~ngomong opoooo iki??? xD