"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (menikah) dari antara hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan yang perempuan." (QS. An-Nuur:32)
Ayat di atas menegaskan tentang pentingnya menikah hingga menjadi perintah untuk menikahkan orang yang masih sendirian. Namun ayat tersebut juga tidak memerintahkan seseorang untuk menikah `buta’, sebab terdapat penekanan kata `layak’ yang harus menjadi pertimbangan. Menikah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh
dipandang sebelah mata. Menikah adalah fitrah bagi manusia dan sejalan dengan anjuran Allah serta RosulNya. Pernyataan Rasulullah SAW dalam hadist berikut dapat menjadi bahan renungan yang bisa membantu memantapkan hati: "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."
Allah akan menjamin siapapun yang mau menikah. Tetapi tetap saja harus ada persiapan yang dilakukan. Karena menikah bukanlah pekerjaan yang akan selesai dalam waktu dekat. Bahkan bisa jadi memakan waktu sepanjang sisa umur pasangan tersebut di dunia ini. Sehingga perencanaan yang matang mutlak diperlukan. "Orang yang mempunyai niat
yang tulus adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk Allah dalam segala perkara.." Begitu ucap Ja’far ash Shiddiq, guru dari Imam Abu Hanifah. Menurutnya seseorang yang
menyegerakan menikah karena niat yang jernih Insya Allah hatinya akan diliputi oleh perasaan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Berbeda dengan menikah tergesa-gesa yang selalu ditandai oleh perasaan tidak aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu.
Ada sebuah perumpamaan tentang pernikahan dalam buku "Kado Pernikahan Untuk Istriku": Menikah itu seperti orang yang sedang mengendarai motor dan menjumpai tikungan yang tajam, apakah dia akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat sampai atau dia mengurangi kecepatan sedikit, membelok, dan kembali
meningkatkan kecepatan perlahan-lahan? Jalan hidup ini begitu panjang. Menikah merupakan salah satu rute yang harus dilalui oleh manusia, sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk
hidup yang diciptakan berpasang-pasangan. Menikah ibarat menapaki titian pelangi. Ada bagian yang mendaki dan memerlukan curahan energi ekstra dan adapula bagian yang menurun yang menawarkan kesenangan, kedamaian serta ujung kisah yang penuh pesona.
sumber (dan lebih lengkap): http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/
maka dari itu.. segerakanlah dek pita :D
BalasHapusbaiklah mbak dewi... :D
BalasHapus~kok kabur dari chat room sih??
hhmmm...........
BalasHapus[mikir2]
hehehe
Pita kayanya udah paham bener nih hehehe,, jd kapan undangannya? :P
BalasHapus@kania: kapan ya kan??? "kapan-kapaaaaan...kita berjumpa lagi" hehehe :D
BalasHapussip dech. ibarat kuliah udah bebas teori, tinggal implementasinya nich
BalasHapus