Minggu, 20 Desember 2009

Cinta tak kan salah

aku, dirimu, dirinya.. tak akan pernah mengerti tentang suratan. aku, dirimu, dirinya.. tak resah bila sadari cinta takkan salah...

Itulah sepenggal syair milik Kahitna yang diputar di mobil sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung akhir pekan lalu. Lagu itu mengingatkanku pada seorang teman, ummm..mungkin beberapa orang wanita, yang kebetulan curhat padaku setelah dan menjelang pernikahan mereka.

Kisah I - sekitar 5 tahun lalu

H-1 hari yang berbahagia itu, seorang wanita 'curhat' padaku "si fulan (teman SMU-nya yg saat itu sedang menimba ilmu di negeri orang) kemarin SMS, dia tanya kenapa aku nikah secepat ini, aku masih terlalu muda... aaah, kenapa dia gak bilang dari dulu? kalau tahu dia suka padaku, aku akan menunggunya.." begitulah kira-kira.

Kisah II - sekitar 2 tahun lalu

Beberapa hari sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, seorang wanita (lainnya) 'curhat' (juga) padaku "aku yakin kalo si fulanA (temannya kuliah) suka ama aku, kenapa dia gak mau bilang? kalau dia mau, aku akan tinggalkan si fulanB dan memilih dia..." begitula kira-kira kisa si wanita yg sudah terlanjur berkomitmen dengan si fulanB terlebih dahulu.

Kisah III - sekitar beberapa bulan lalu

seorang wanita sharing tentang kisah ta'arufnya dengan sang suami... "Sebenarnya yang aku nantikan dulu bukan dia. Tapi karena si fulan gak berani untuk ngajakin ta'aruf, dan kebetulan ada proposal yang masuk, ya udah..aku istikharah aja..."

Mungkin masih banyak kisah-kisah lain yang serupa dengan ketiga wanita yang aku kisahkan di atas. Menikah bukan dengan pria yang ia inginkan awalnya. Tapi wanita juga tidak ingin menunggu terlalu lama dan "digantung" tanpa ada kejelasan. Dari ketiga cerita tersebut, si pria hanya berani memberi perhatian tapi tak berani mengatakan dengan tegas tentang apa yang dirasakannya yg mungkin sama dengan apa yang disangkakan oleh para wanita itu. Dan sang wanita tak berani utk bertanya.. takut salah sangka dan terlukalah hatinya. Akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu... namun penantian itu ada batasnya. Hingga datanglah seorang lelaki yang berjiwa ksatria mengajaknya mengarungi hidup bersama dan menyudahi penantiannya. Sekarang. Saat ini. Bukan nanti-nanti. Dan babak baru kehidupanpun dimulai. Memupuk cinta baru dan mimpi-mimpi baru...

Mungkin ada di antara wanita itu yang menyesali keputusannya saat badai datang mendera. Tapi ada juga yang sangat bersyukur telah dipertemukan dengan orang yang tepat untuk menjadi kekasihnya. Dan seperti apa yang dikatakan Kahitna bahwa cinta tak kan salah.. So, jangan kau sesali apa yang sudah terjadi..karena kau telah memilih untuk menerimanya.

Menikah dengan orang yg kita cintai adalah keberuntungan, dan mencintai orang yg kita nikahi adalah kewajiban

~ngomong opoooo iki??? xD

Rabu, 16 Desember 2009

Antara Klinik atau Poliklinik

"Hari kamis. layanan tambalnya gak buka.." kata si dokter gigi di sebuah RS Gigi..

"ha????" aku terbengong-bengong.. baru tahu kalo poliklinik ini ada waktu2nya layanan A dibuka hari apa aja.. maklum, jarang berobat ke RS..alhamdulillah :D

Yaah, tau gini gak kubatalin janji sama dokter gigi langganan. Mau cepet malah jadi lama, karna besok libur terpaksa hari selasa baru bisa balik lagi. Tapi klo harus ke dokter langgananku, sore banget baru ada dan di depok pula...jauuuuuh, dan malas. Padahal nih gigi harus segera diperbaiki biar gak menyut2 kalo makan es krim...huhuhu. Belum lagi klo berobat di poli, administratifnya panjang. Daftar dulu di gedung C, trus diperiksa sama konsulennya, trus dikasih rujukan, pindah gedung buat foto, balik lagi nyerahin hasil foto ke konsulen tadi dan dikasih tau harus kemana buat tambalnya, belom ngantrinya... Kalo ke klinik kan cuma datang, daftar, duduk di ruang tunggu sampai dipanggil masuk, dikerjain, selesai deh... walaupun nunggu bisa berjam-jam juga klo lagi apes banyak pasiennya. Tapiiiii... klo di klinik, mahal banget bo'. Moga-moga aja di poli ini gak begitu mahal secara yang ngerjain belom sah jadi dokter...hehe

Saran saya buat yang mau ke dokter gigi, malas nunggu dan punya duit... mending ke klinik aja deh :p

pindah gak ya???

Gara-gara kejadian beberapa hari kemarin, terbersitlah dalam benakku... "aku ingin pindaaaaah". Merasa menjadi 'pegawai yang tak dianggap' dan atasan yang dirasakan 'tidak adil' hanya karena satu permasalahan yang sebenarnya sepele tapi jadi besar karna dikomporin sama teman-teman, yang kupikir ada benarnya juga... akhirnya beberapa hari bete klo ngantor. Alhasil... 2 hari bolos dengan alasan mau belajar buat ujian dan lagi ga enak badan.. 2 hari cuma ke tempat klien yang itu sebenarnya hanya memakan waktu 2-3 jam per hari, tapi karna dirasa lebih dekat klo berangkat dari rumah dan langsung pulang ke rumah... enaknyaaaaa...hehehe

Hari ini masuk kembali ke ruangan itu, pagi-pagi dah nangkring dan nanti berencana untuk pulang cepat. Yang ada dalam pikiran sekarang adalah "ngapain rajin-rajin amat ngantor, yang penting kerjaan beres... TITIK" toh, bos juga pikirannya saklek gitu, gak ada toleransi sedikit... Yaa, sebenarnya sih gak bagus juga.. jadi gak ikhlas kerjanya...bawaannya klo melihat muka si bos jadi bete..sebel..ngedumel... dan hal-hal buruk lainnya.

Trus, kenapa gak resign??? Maunya sih gitu klo mikir... "aku masih muda ini" atau "potensiku ada kok untuk berkarir di luar kampus" tapiiiiii pikiran itu akhirnya dipikirin lagi berulang-ulang kalau inget kata teman2 yang sudah pernah merasakan kerja di luar trus balik lagi ke kampus... "nanti klo lo udah berkeluarga baru terasa deh enaknya kerja di kampus, apalagi lo cewek"..yup, bener banget.. klo di sini tuh ada satu keuntungan yang mungkin sulit didapat di tempat lain (non-kampus).. fleksibilitas kerja dan waktu. Mau izin mendadak? sok... asal gak ada kerjaan yang urgent banget harus diselesaikan hari itu.. Mau kerja dari rumah? silahkeun...nanti hasil kerjaan bisa dikirim via email, koordinasi bisa lewat telpon. Dan itu kurasakan beberapa hari ini saat sedang "ngambek" buat ngantor...hahaha

"tergantung yang lo cari apa..." begitu nasihat seorang teman ketika aku curhat mau keluar dari tempat kerja sekarang.. klo yang dikejar adalah karir dan finansial, yaa gak akan dapet klo tetap di sini. Tapiii, sebagai perempuan hal itu harusnya bukan prioritas. Tugas suamilah yang mencari nafkah keluarga, dan istri cuma "nge-bantu" meringankan beban itu dan kalau mau beli yang aneh2, bukan kebutuhan pokok, bisa pake duit sendiri...haha. Lagian, klo karir bagus diluar, duit banyak, tapi keluarga berantakan, buat apa coba??  (lho...lho...kok jadi melenceng ke sana??? hmmm).

Tapi emang di tempat yang sekarang, bisa dibilang udah comfort zone banget. Teman-teman yang menyenangkan, sederhana, bijaksana, meskipun ada satu dua yang ngebetein tapi gak parah2 banget kok...hehe. Kerjaan juga kadang ada tiada, jadi gak dikejar-kejar terus ama kerjaan... belum lagi bisa menitis karir sebagai dosen yang mana aku rasa peluang itu terbuka berkat kerja di sini... duuh, bener-bener bikin mikir lagi untuk mau pindah...puyeeeeeng.

udahan aaah curhatnya... balik kerja lagi, tapi harus SEMANGAAAAAT!!! biar hari ini bisa produktif. Bismillah...

Selasa, 15 Desember 2009

lebih dari sekedar puisi

seringkali aku bertanya pada diriku sendiri...
sudah benarkah langkah ini?
kadang ku pikir ini salah, namun lebih sering ku rasa benar

ini tak sama...sungguh tak sama...
berbeda dari yang sebelumnya
ada kata yang tertahan meski akal tlah memberi aba-aba dan hati memberi permisi...
ada tapak yang tak terkendali meski akal tak lama berpikir dan hati sedikit meragui.

mungkin itulah sebuah keyakinan...
yang datang dari petunjuk Tuhan
ketika diri seutuhnya berpasrah pada kehendak-Nya..
untuk mencari sesuatu yang dinanti
hingga kelak berpisah dan bertemu kembali
sebagai penghuni surga yang abadi...

Kamis, 03 Desember 2009

ku akui aku telah lalai

"Mbak, kapan kita kumpul2 lagi?" tiba2 pertanyaan itu terlontar dari adikku via messaging di monitor laptopku..

sejenak aku tersentak... astaghfirullah... iya ya, sudah beberapa bulan sejak ifthor bersama Ramadhan kemarin nyaris tak pernah ada pertemuan lagi yang kuadakan bersama mereka.. sebenarnya "kemalasanku" ini bukan tanpa alasan (atau tepatnya ku sebut pembenaran). Dulu, setiap kali diajak ngumpul, ada aja alasan mereka, sibuk tugas kuliah, harus ke tempat KP, ada acara keluarga, bla..blaa... Jumlah yang sedikit itupun menjadi semakin dikit dan kuanggap tidak "pantas" lagi untuk berjalan.. Sudah beberapa kali ku minta carikan solusi untuk masalah ini kepada yang "berhak" tapi tetap tak ada jawaban. Dan puncaknya, ku hentikan secara sepihak dengan segala "alasan" yang ku buat untuk meninggalkan mereka.

"aah, sepertinya mereka sudah tidak butuh lagi" atau "aku sibuk" atau "aku gak siap" dan alasan2 lain yang kubuat meninggalkan kewajibanku mengelola amanah ini.

Dan adikku berkata demikian bukan tanpa latar belakang.. sehari sebelumnya dia mengirim SMS mengatakan bahwa dirinya sudah semakin jauh dan futur... dan aku hanya bisa terdiam.. "adakah ini akibat kelalaianku?" astagfirullah...

padahal beberapa hari sebelumnya aku sudah merasakan gejala-gejala "kurang sehat" dari beberapa orang di antara mereka... padahal aku sendiri merasakan bahwa amanah ini (insya Allah) dapat menjadi tempat menumpahkan segala kepenatan hidup dan aktivitas sehari-hari... bertemu dengan saudara dan saling nasihat menasihati dalam ketakwaan adalah bagian terindah dari ukhuwah.

tapi apa yang aku lakukan? seolah aku menutup mata dan tak perduli... itu bukan tanggung jawabku (lagi). sudah mati kah hati ku? atau memang ia tak pernah hidup sebelumnya??

semoga Allah mengampuni segala kelalaianku ini dan menguatkan azzam ku kembali untuk menjalankan amanah ini...bismillah...

masih (mau) ngajar gak ya???

setiap kali mau ngajar... dari malemnya pasti sudah gak enak makan, gak enak tidur.. (halaaaa...lebay mode on :p)

ternyata mempersiapkan materi kuliah tidak semudah yang aku kira.. apa yang kita mengerti kadang sulit untuk disampaikan kepada orang lain agar mereka pun paham.. apalagi kalo yang tidak dimengerti?? (kayaknya dari pengalaman semester ini banyak gak ngertinya deh..hehe). Ada rasa takut kalau yang dipahami ternyata salah sehingga yang diajarkan pun salah...lalu ada yang tanya macam2 dan akhirnya gak bisa jawab...huhuhu. Tapi so far sih selalu bisa jawab walaupun berbelit2 di awal dan kalau tanya balik ke si penanya... jawaban yang di dapat cuma "anggukan penuh arti" (bahwa pertanyaan terjawab atau tidak...hehehe)

setiap kali masuk kelas, selalu tangan gemetar, gugup, ngomong suka blibet...duh, kayak orang gak pernah ngomong di muka umum aja (emang gak pernah :D). Teman2 di ruangan juga sudah "maklum" kalau aku uring2an setiap hari klo ngajar... hahahaha.

sekarang sudah sampai di akhir semester. feedback tengah semester juga sudah di dapat dari beberapa mahasiswa komentarnya... "cerdas sih, tapi kurang bisa dipahami" -__-'  jadi sedih bacanya.. percuma donk ngajar klo yg diajar gak paham..huhuhu

yaah, kalo memang mengajar bisa membawa kebaikan untukku dan untuk orang lain (mahasiswaku) moga aja semester depan dapet jatah ngajar lagi.. kalo malah bikin orang lain (mahasiswa) jadi "repot" karena tidak bisa memahami atau salah memahami ilmu yang aku ajarkan atau malah "menzhalimi" diriku sendiri (bikin stresssss), apa boleh buat klo smester depan status "dosen" ku dihentikan :D

Ya Rabb... berilah hamba yang terbaik dari sisi-Mu

Rabu, 02 Desember 2009

(lagi-lagi) Tentang Pernikahan.. :D

PERNIKAHAN ADALAH KESUCIAN....
DAN JALAN MENUJU PERNIKAHAN TENTUNYA HARUS SESUCI PERNIKAHAN ITU PULA...!!!

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….

~di copas dari blog lain, tapi karena panjaaaaaaaang banget, jadi diambil cuplikannya aja :p

artikel lengkapnya bisa dibaca di: http://rayabertasbih.multiply.com/journal/item/21/ATAS_NAMA_TAARUF