Rabu, 20 Januari 2010

Tempat parkir saja aku minta pada-Nya....

Suatu hari aku harus pergi ke sebuah pasar yang konon kabarnya selalu ramai dan susah parkir... biasanya kalau ke sana aku lebih milih untuk naik taksi atau dianterin sama kakak.

Dari pagi aku sudah membayangkan jalanan di depan pasar tersebut yang selalu macet dan dipenuhi oleh bajaj dan angkot yang setia menanti penumpang yang keluar dari pasar. Ini nih yg bikin macet...huh. Belum lagi tempat parkir di basement yang terlihat gelap dan sempit...hadoooh... Yah meskipun sudah beberapa bulan bawa mobil sendiri, tapi untuk urusan parkir kadang masih fobia saat harus bepergian sendiri.

Akhirnya, dari pagi aku sudah berdoa... "Ya Allah, mudahkanlah urusanku hari ini" berharap nanti siang semuanya lancar, jalanan gak macet - apalagi jakarta habis diguyur hujan deras malam harinya dan merata di seluruh area - gak nyasar, dan dapet tempat parkir yg mudah :D

siang hari pun begitu... ba'da sholat zuhur, ku titipkan lagi harapanku itu kepada Yang Maha Mengatur... dan setelah makan siang, bismillah....aku pun menuju ke lokasi tersebut. Sesampainya di sana, jalanan lumayan "sepi", gak nyasar... (hehehe..) daaaan, pas masuk gerbang pasar, lagi nungguin abangnya nulis kartu parkir, eeh..mobil di depanku keluar...langsung deh tinggal lurus dan parkir dengan mudahnya... Alhamdulillah ^_^

Setelah urusanku selesai di pasar itu, dalam perjalanan pulang aku terpikir kembali akan doaku sepanjang pagi hingga siang tadi...subhanallah, Allah itu Maha Mendengar... lalu aku pun teringat cerita temanku hampir di sepanjang perjalanan pergi tadi... (oops, disinggung lg nih :p) Jika hal kecil seperti tempat parkir saja bisa ku pinta pada Allah, dan langsung di kabulkan... mana mungkin Allah tidak memberi suatu hal besar apalagi jika diniatkan untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah Allah sudah mengatakan dalam Al-Qur'an "mintalah kepada Ku niscaya akan Aku kabulkan..."

Makanya, saranku adalah berdoa...berdoa...berdoa...berusaha...berdoa...berdoa...berdoa...dan berserah diri...Jangan sekali-kali kau anggap remeh suatu Doa. Tahukah kau bahwa itu senjata yg paling hebat yg dimiliki orang2 mukmin?? Jangan pernah berputus asa untuk berdoa...dan yang pasti, jangan pernah memaksakan suatu doa...mungkin hanya belum dikabulkan atau sudah dikabulkan tapi dalam bentuk yang lain, hanya kita yang tidak jeli melihatnya.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Buat sahabatku dan someone (yg mungkin membaca ini dan merasa....), semoga ditunjukkan jalan yang terbaik... apapun yg terjadi di akhir cerita nanti, cobalah untuk melihat lebih luas dan hati yg lapang... adakah ini jawaban dari doa2 mu??? Tetaplah bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan padamu ^___^

Selasa, 12 Januari 2010

sebuah tulisan dan doa...

Untuk Calon Suamiku…..
Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai calon suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal ‘alamin.

copas dari: http://auliyaa.blogdetik.com/2009/02/25/untuk-calon-suamiku/