disini aku ingin menuliskan tetang kado ultah pertama dari suamiku... mungkin aku bukan pujangga seperti dirinya yang dapat merangkai untaian kata menjadi indah untuk dibaca... mari dimulai..
27 Maret 2010, adalah ulang tahun pertamaku dengan status sebagai istri. Sebulan sebelumnya, 27 Februari 2010, seorang lelaki telah halal dan resmi secara negara menjadi suamiku (bukan nikah siri lho..hihihi). Beberapa hari menjelang miladku itu, entah kenapa aku mendadak jadi "manja" (padahal sehari-harinya juga kok :p). Aku sms suamiku untuk memintanya pulang ke jakarta pada hari Jumatnya, bukan untuk menghabiskan waktu hingga pukul 12 malam, tapi aku ingin ketika membuka mataku di umur yang telah mencapai seperempat abad itu, suamiku adalah orang pertama yang aku lihat.... (gak penting banget sih :p). Tapi, karena ada kebutuhan mendesak dan penting lainnya, suamiku tidak bisa memenuhi keinginanku itu.
Dua hari sebelumnya, kalo tidak salah, suamiku sempat menanyakan ukuran sepatu dan merk yang aku suka. Maklum, pasangan baru, jadi blom hafal ukuran sepatu pasangannya...hehe. Waah, ketahuan dong kadonya?? Dalam benakku, dia akan memberikan sepasang sepatu dengan hak tinggi yang memang sering kupakai saat di palembang. Lalu ku katakan padanya, "tidak usah, klo mau beliin sepatu, nanti aja. Takut aku gak nyaman makenya"
H-1 sebelum miladku, suamiku mengirim SMS dan mengatakan klo kadonya sudah dibeli. Hmmm, kira2 kado apa ya? apakah tetap sepatu seperti rencana semula? Esok pagi, di hari ultahku, tak sengaja aku membaca note di FB yang ditulis oleh suamiku dan ditujukan untukku. Oya, notesnya juga ada di sini... http://mymino.multiply.com/journal/item/3/Kado_Pertama. Setelah membaca notes itu, aku jadi makin penasaran... kado spesial apakah yang sudah disiapkan oleh suamiku ya? hmm...
Sore harinya, suamiku akhirnya tiba dari Bandung. Tak lama, ia pun memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi dengan kertas kado yang cantik. Ketika ku buka... ternyata isinya adalah sebuah sandal teplek (baca: low-heels :D). Kenapa sandal?? memoriku menarik kembali untaian kata yang ia tulis di note-nya.
"Ternyata berharganya kado pertama tadi tidak hanya terletak pada uniknya bersouvenir novel hasil karya pengantin, tidak hanya karena bertepatan dengan momen hari istimewa pernikahan, tapi karena nilai kesungguh-sungguhan untuk memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu. Kalau memang demikian sebenarnya titik sumbunya, maka kado kedua, ketiga, dan seterusnya insya Allah, akan tetap bisa berkelas jika ada kesungguh-sungguhan cinta didalamnya."
Aku jadi ingat bagaimana ketika di palembang aku mengeluh kesakitan setelah seharian jalan menggunakan sandal high-heels karena sandal teplek ku hilang setelah hari akad nikahku di rumah. Maklum, kebanyakan tamu dan sanak family yang datang dan pergi, jadi mungkin saja sandalku itu terpakai dan terbawa entah ke mana.
Ouuww.. aku jadi terharu...ternyata suamiku menganggap hal itu bukan hal yang "biasa".. itulah wujud perhatian dan cintanya padaku yang "menderita" karena tidak punya sandal teplek yang nyaman untuk dipakai jalan seharian...=D
terima kasih suamiku... terima kasih atas sandal cintanya
foto sandalnya mana ?? :D met milad ci pita.. :)
BalasHapusmakasih bintang :)
BalasHapuswaaa..gak sempet difoto sandalnya..
*sebenarnya sih males moto & transfer & uploadnya...hohoho*
so romantic.
BalasHapussuittt suitttt........ :D
BalasHapushehehe.... =D
BalasHapusiiih.. tya genit deh, pake siul2 segala... xixixixi
BalasHapuspada dasarnya cinta adalah kamuflase, cinta merupakan relasi kuasa dimana hubungan2 yang dijalin dlm mekanisme cinta adalah mekanisme untuk saling menguasai antara satu pihak kepada pihak lain yang didasari motif2 kepentingan dibaliknya. Motif yang paling sederhana adalah karena menginginkan harta dan kenikmatan seksual (atau bisa agama, kecantikan, kedudukan, dll). Motif-motif inilah yang sesungguhnya eksis.
BalasHapusContoh lain bahwa di balik “panggung depan” cinta ada sebuah backstage yang dipenuhi motif-motif kepentingan adalah evolusi dari cinta itu sendiri, yang mana pada titik tertentu mengalami perubahan (bagi beberapa orang perubahan ini dikatakan sebagai peningkatan, bagi yang lain adalah degradasi), yaitu evolusi cinta menjadi tugas, tugas untuk memenuhi hak dan menjalankan kewajiban, dan perubahan ini bukan hanya pada “kostum”-nya saja tapi juga diiringi dinamika perubahan pada pola kepentingan-kepentingan menuju lebih kompleks; seperti nafkah dan perlindungan.
Tapi kenapa salah satu bentuk relasi kuasa yang dinamakan cinta ini tidak pernah berhenti digemari? karena kuasa cinta telah menguasai dan mendisiplinkan jiwa dan raga seorang pencinta, sehingga mereka terjangkit dan sakit namun tak ingin diobati dan disembuhkan.