Beberapa waktu lalu aku sempat bilang pada suamiku.. "aku mau jadi ibu rumah tangga aja ya.." dan suamiku hanya mengiyakan. Padahal saat itu sebenarnya aku masih bingung untuk memilih jalan karirku jika sudah pindah ke Bandung nanti. Memang kami berencana untuk pindah dari Jakarta yang sudah sumpek ini, memulai kehidupan baru biar gak long-distance lagi..hehe. Tapi beberapa teman yang mendengar wacana ini sebagian mengatakan... "sayang pit, udah bagus keterima dosen di UI" yeaaah...
Memang, karir sebagai dosen sepertinya pilihan yang cukup baik bagi seorang wanita yang sudah berkeluarga. Jam kerja yang fleksibel. Klo ada keperluan mendadak, kelas bisa di-reschedule atau kasih tugas ke mahasiswanya. Lingkungan yang kondusif dan bisa bawa anak ke kantor. Klo masuk kelas, anaknya bisa titip di ruangan, ya kan?? hehe.
Tapiii sepertinya klo aku bertahan di sini malah jadi desperate lecturer...hohoho. ahh, yang ini gak usah dibahas di sini lah.. soalnya subjektif sekali
Lalu bagaimana kalau jadi ibu rumah tangga saja? apalagi kalau nanti sudah punya anak.. bakalan sibuk deh ngurusin anak. ditambah lagi jauh dari orang tua, jadi gak bisa nitip anak klo kerja..hehe. Tapi setelah melihat seorang teman yang sudah punya 2 anak, dan "mengeluh" dengan statusnya sebagai full-time mother, sepertinya di rumah seharian itu membosankan dan cukup menyiksa.. (lebay gak sih??) Akhirnya kemarin sempat berbincang-bincang dengan seorang wanita yang pernah punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga dan kembali menjadi ibu pekerja.. (makasih ya mba shinta, cerita yang amat berharga )
Mengapa wanita ingin bekerja?? Kalau alasan utamanya adalah ekonomi, yaah itu sih gak perlu dibahas lagi. Meskipun mencari nafkah adalah tugas suami, tapi klo emang tidak mencukupi..apalagi jaman sekarang yang apa2 serba mahal, istri ikut mencari uang untuk kebutuhan rumah tangga bukan suatu hal yang aneh. Nah, klo pendapatan suami sudah mencukupi, apakah si istri masih perlu bekerja?? kesimpulan dari perbincangan kemarin jawabannya adalah YA (apalagi untuk wanita2 yang terbiasa aktif semasa lajangnya dulu). Kenapa? Kadang, wanita bekerja itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mengekspresikan dirinya, cari kesibukan lain diluar rutinitas mengurus anak dan rumah, mencari kepuasan sosial, dsb. Katanyaaa (maklum blom berpengalaman jadi housewife..hehe) klo dah suntuk dengan rutinitas rumah, maka si ibu ini bisa tidak optimal dalam mengurus anaknya, melayani suaminya.. karena ada kebutuhan emosional yang tidak tersalurkan. Ujung2nya jadi beteee aja di rumah.
Lalu, gimana solusinya?? Yaa seorang wanita harus bisa memilih-milih pekerjaan yang bisa memberikan kepuasan padanya, tapi tetap bisa memprioritaskan keluarganya. Misalnya, jadi tenaga freelance.. bisa kerja dari rumah, tapi tetap ada pencapaian tersendiri, atau berwirausaha, ikut seminar2 dan kursus2., dan sebagainya. Pokoknya ada kesibukan lain aja. Tapi sebenarnya tergantung wanitanya juga sih. Kalo manajemen waktunya bagus, kerja kantoran yang punya waktu kerja 8 jam sehari, ditambah lembur-lembur dsb, sepertinya juga bukan pilihan yang buruk. Apalagi lingkungan disekitarku, mayoritas adalah wanita pekerja. Dan sepertinya mereka sukses2 aja tuh mengurus anak2 dan rumah tangganya...
Nah, pas diskusi ini akhirnya aku jadi mikir juga.. klo nanti aku "terpaksa" harus stop bekerja di kantor, dan sudah punya baby... enaknya ngapain ya?? Mau wirausaha, belum punya nyali. Mau jadi freelance, punya bakat apa ya?? Apa jadi penulis aja seperti suamiku?? emang bisa???hahaha....huu..bingung.
Pilihan yang sepertinya berpeluang besar yaa jadi dosen... secara modal sudah ada. Pendidikan dan pengalaman mengajar sudah dikantongi. Aman laaah.. Tapi, yakin mau jadi dosen??? padahal tiap klo mau masuk kelas yang ada bawaannya stress...fiuuuh.