Selasa, 13 April 2010

jadi ibu rumah tangga, mau??

Beberapa waktu lalu aku sempat bilang pada suamiku.. "aku mau jadi ibu rumah tangga aja ya.." dan suamiku hanya mengiyakan. Padahal saat itu sebenarnya aku masih bingung untuk memilih jalan karirku jika sudah pindah ke Bandung nanti. Memang kami berencana untuk pindah dari Jakarta yang sudah sumpek ini, memulai kehidupan baru biar gak long-distance lagi..hehe. Tapi beberapa teman yang mendengar wacana ini sebagian mengatakan... "sayang pit, udah bagus keterima dosen di UI" yeaaah...

Memang, karir sebagai dosen sepertinya pilihan yang cukup baik bagi seorang wanita yang sudah berkeluarga. Jam kerja yang fleksibel. Klo ada keperluan mendadak, kelas bisa di-reschedule atau kasih tugas ke mahasiswanya. Lingkungan yang kondusif dan bisa bawa anak ke kantor. Klo masuk kelas, anaknya bisa titip di ruangan, ya kan?? hehe.

Tapiii sepertinya klo aku bertahan di sini malah jadi desperate lecturer...hohoho. ahh, yang ini gak usah dibahas di sini lah.. soalnya subjektif sekali

Lalu bagaimana kalau jadi ibu rumah tangga saja? apalagi kalau nanti sudah punya anak.. bakalan sibuk deh ngurusin anak. ditambah lagi jauh dari orang tua, jadi gak bisa nitip anak klo kerja..hehe. Tapi setelah melihat seorang teman yang sudah punya 2 anak, dan "mengeluh" dengan statusnya sebagai full-time mother, sepertinya di rumah seharian itu membosankan dan cukup menyiksa.. (lebay gak sih??) Akhirnya kemarin sempat berbincang-bincang dengan seorang wanita yang pernah punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga dan kembali menjadi ibu pekerja.. (makasih ya mba shinta, cerita yang amat berharga )

Mengapa wanita ingin bekerja?? Kalau alasan utamanya adalah ekonomi, yaah itu sih gak perlu dibahas lagi. Meskipun mencari nafkah adalah tugas suami, tapi klo emang tidak mencukupi..apalagi jaman sekarang yang apa2 serba mahal, istri ikut mencari uang untuk kebutuhan rumah tangga bukan suatu hal yang aneh. Nah, klo pendapatan suami sudah mencukupi, apakah si istri masih perlu bekerja?? kesimpulan dari perbincangan kemarin jawabannya adalah YA (apalagi untuk wanita2 yang terbiasa aktif semasa lajangnya dulu). Kenapa? Kadang, wanita bekerja itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mengekspresikan dirinya, cari kesibukan lain diluar rutinitas mengurus anak dan rumah, mencari kepuasan sosial, dsb. Katanyaaa (maklum blom berpengalaman jadi housewife..hehe) klo dah suntuk dengan rutinitas rumah, maka si ibu ini bisa tidak optimal dalam mengurus anaknya, melayani suaminya.. karena ada kebutuhan emosional yang tidak tersalurkan. Ujung2nya jadi beteee aja di rumah.

Lalu, gimana solusinya?? Yaa seorang wanita harus bisa memilih-milih pekerjaan yang bisa memberikan kepuasan padanya, tapi tetap bisa memprioritaskan keluarganya. Misalnya, jadi tenaga freelance.. bisa kerja dari rumah, tapi tetap ada pencapaian tersendiri, atau berwirausaha, ikut seminar2 dan kursus2., dan sebagainya. Pokoknya ada kesibukan lain aja. Tapi sebenarnya tergantung wanitanya juga sih. Kalo manajemen waktunya bagus, kerja kantoran yang punya waktu kerja 8 jam sehari, ditambah lembur-lembur dsb, sepertinya juga bukan pilihan yang buruk. Apalagi lingkungan disekitarku, mayoritas adalah wanita pekerja. Dan sepertinya mereka sukses2 aja tuh mengurus anak2 dan rumah tangganya...

Nah, pas diskusi ini akhirnya aku jadi mikir juga.. klo nanti aku "terpaksa" harus stop bekerja di kantor, dan sudah punya baby... enaknya ngapain ya?? Mau wirausaha, belum punya nyali. Mau jadi freelance, punya bakat apa ya?? Apa jadi penulis aja seperti suamiku?? emang bisa???hahaha....huu..bingung.

Pilihan yang sepertinya berpeluang besar yaa jadi dosen... secara modal sudah ada. Pendidikan dan pengalaman mengajar sudah dikantongi. Aman laaah.. Tapi, yakin mau jadi dosen??? padahal tiap klo mau masuk kelas yang ada bawaannya stress...fiuuuh.

Kamis, 08 April 2010

Long-distance relationship

Beberapa hari sebelum pernikahanku, aku sempat chatting dengan seorang teman nun jauh di sana... Dalam pembicaraan itu,  aku sedikit menyindir temanku ini..

"kamu kapan rencananya?" tanyaku

"blom ketemu akhwat yg cocok.." kira-kira jawabnya seperti itu (oya, temanku ini seorang lelaki)

"emang carinya yg seperti apa?" tanyaku lagi

"yg bisa diajak tinggal di sini dan dibawa kalau harus pindah ke kota yang lain" sambungnya. Temanku ini memang bekerja di salah satu perusahaan skal nasional dimana ia memiliki kemungkinan untuk ditempatkan di daerah mana saja alias dimutasi. So, maunya dia..si istri nanti bisa ikut dia kemana pun nantinya ia ditempatkan. Hmmm..

Lalu aku pun menyambung pembicaraan..

"yaah, long-distance beberapa saat dulu gak apa kali... aku nanti juga gitu kok rencananya. aku masih di jakarta dan dia di bandung" jawabku ringan kala itu.

"klo bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance??" sangkalnya..

Saat itu, sebelum menikah, aku tidak terlalu memikirkan mengenai hal ini. Ku pikir awalnya karena kami (aku dan calon suamiku saat itu) memang tidak biasa sama-sama (seperti halnya orang pacaran) dan kalau nanti awal2 menikah juga tidak sama-sama tiap hari, yaah.. gak kan ngaruh banyak lah... sudah biasa toh??

kini, aku dan suamiku menjalani yang namanya Long-distance relationship. Tentu saja ada enak dan gak enaknya (harus dilihat dari dua sisi toh??? biar tetap bersyukur..hehe)

Enaknya apa? Ada yang namanya masa transisi antara sebelum dan sesudah menikah. Kalau orang normalnya, habis nikah tinggal bersama, everyday always together, perubahan itu akan benar-benar terasa. Apalagi untuk orang sepertiku yang sudah bertahun-tahun sebelumnya hidup mandiri di perantauan...hehe. Kalau long-distance, masih berasa single ajah walaupun sebenarnya udah double  Dan masa transisi ini dijadikan masa untuk diri, hati, pikiran, jiwa dan raga (halaaaah...) beradaptasi dengan status baru, kehidupan yang baru. Long-distance juga membuat kami untuk saling berkangen-kangen ria... weekend menjadi waktu yang dinantikan karna itulah saatnya untuk kami bertemu... jadi merasakan namanya nge-date di malam minggu...xixixixi.

Nah, masalah kangen ini juga bisa dibawa gak enak. Kenapa?? sumpaaaah, rasanya gak enaaaak banget. I never have feeling like this before. Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik.. kepikiran si dia.. sedang apa, sama siapa, di mana.. (kok jadi kayak iklan??? hehehe) Yang ada bawaannya pingin nelpon dan sms-an mulu. Resah, gelisah, gundah, gulana... (lebay deh nih kayaknya ) Pokoknya, missing someone itu gak enak..titik. Apalagi untuk orang yang baru poling in loph ...hehehe.

Gak enak lainnya adalah... saat butuh PASANGAN ada di sisi kita, misalnya ada acara kumpul2 dengan teman-teman atau kerabat, eh..tetap aja jadi jomblo...huhuhu.

Tapiiiii... perasaan itu harus terus ditata... agar tidak jadi curigaan, buruk sangka, atawa cemburu berlebihan terhadap pasangan... Hmmm...mungkin ini kali ya tidak sidikit pasangan (yg blom nikah alisa pacaran) saat harus long-distance malah jadi bubar jalan... Jangan sampe juga karena terus-terusan ingat si dia kerjaan jadi terbengkalai. Harus tetap semangat dan produktif dalam aktivitas sehari-hari..ya kan??

Dan akhirnya sekarang aku setuju jangan pendapat temanku itu.. kalau bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance..???