Kamis, 08 April 2010

Long-distance relationship

Beberapa hari sebelum pernikahanku, aku sempat chatting dengan seorang teman nun jauh di sana... Dalam pembicaraan itu,  aku sedikit menyindir temanku ini..

"kamu kapan rencananya?" tanyaku

"blom ketemu akhwat yg cocok.." kira-kira jawabnya seperti itu (oya, temanku ini seorang lelaki)

"emang carinya yg seperti apa?" tanyaku lagi

"yg bisa diajak tinggal di sini dan dibawa kalau harus pindah ke kota yang lain" sambungnya. Temanku ini memang bekerja di salah satu perusahaan skal nasional dimana ia memiliki kemungkinan untuk ditempatkan di daerah mana saja alias dimutasi. So, maunya dia..si istri nanti bisa ikut dia kemana pun nantinya ia ditempatkan. Hmmm..

Lalu aku pun menyambung pembicaraan..

"yaah, long-distance beberapa saat dulu gak apa kali... aku nanti juga gitu kok rencananya. aku masih di jakarta dan dia di bandung" jawabku ringan kala itu.

"klo bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance??" sangkalnya..

Saat itu, sebelum menikah, aku tidak terlalu memikirkan mengenai hal ini. Ku pikir awalnya karena kami (aku dan calon suamiku saat itu) memang tidak biasa sama-sama (seperti halnya orang pacaran) dan kalau nanti awal2 menikah juga tidak sama-sama tiap hari, yaah.. gak kan ngaruh banyak lah... sudah biasa toh??

kini, aku dan suamiku menjalani yang namanya Long-distance relationship. Tentu saja ada enak dan gak enaknya (harus dilihat dari dua sisi toh??? biar tetap bersyukur..hehe)

Enaknya apa? Ada yang namanya masa transisi antara sebelum dan sesudah menikah. Kalau orang normalnya, habis nikah tinggal bersama, everyday always together, perubahan itu akan benar-benar terasa. Apalagi untuk orang sepertiku yang sudah bertahun-tahun sebelumnya hidup mandiri di perantauan...hehe. Kalau long-distance, masih berasa single ajah walaupun sebenarnya udah double  Dan masa transisi ini dijadikan masa untuk diri, hati, pikiran, jiwa dan raga (halaaaah...) beradaptasi dengan status baru, kehidupan yang baru. Long-distance juga membuat kami untuk saling berkangen-kangen ria... weekend menjadi waktu yang dinantikan karna itulah saatnya untuk kami bertemu... jadi merasakan namanya nge-date di malam minggu...xixixixi.

Nah, masalah kangen ini juga bisa dibawa gak enak. Kenapa?? sumpaaaah, rasanya gak enaaaak banget. I never have feeling like this before. Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik.. kepikiran si dia.. sedang apa, sama siapa, di mana.. (kok jadi kayak iklan??? hehehe) Yang ada bawaannya pingin nelpon dan sms-an mulu. Resah, gelisah, gundah, gulana... (lebay deh nih kayaknya ) Pokoknya, missing someone itu gak enak..titik. Apalagi untuk orang yang baru poling in loph ...hehehe.

Gak enak lainnya adalah... saat butuh PASANGAN ada di sisi kita, misalnya ada acara kumpul2 dengan teman-teman atau kerabat, eh..tetap aja jadi jomblo...huhuhu.

Tapiiiii... perasaan itu harus terus ditata... agar tidak jadi curigaan, buruk sangka, atawa cemburu berlebihan terhadap pasangan... Hmmm...mungkin ini kali ya tidak sidikit pasangan (yg blom nikah alisa pacaran) saat harus long-distance malah jadi bubar jalan... Jangan sampe juga karena terus-terusan ingat si dia kerjaan jadi terbengkalai. Harus tetap semangat dan produktif dalam aktivitas sehari-hari..ya kan??

Dan akhirnya sekarang aku setuju jangan pendapat temanku itu.. kalau bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance..???

22 komentar:

  1. hahaha.. tidak semua orang diberikan pilihan yang banyak oleh Tuhan..
    salam long distance relationship :p

    BalasHapus
  2. hihihihi... sebagai sesama long-distance harus saling support ya mba... =D

    BalasHapus
  3. Tetep lebih baik lah dari pada masih single... *ga nyambung ya... :p

    BalasHapus
  4. long distance : tolerable
    long distance saat : really unfavorable ;)

    BalasHapus
  5. @ulin: hehehe...klo gitu ntar cari mojang bandung aja lin, biar ndak LDR-an.. *dah pe de aje nih keterima...amiin ya lin?! :D*

    @ramot: "long distance saat" tuh apa ya mot?

    BalasHapus
  6. iya, betul, saya juga bilang gituh, emang istri harus ikutlah, masa udah nikah tapi jauh2an, klo untuk sementara mah (mungkin) masih bisa dimaklumin, tapi tentu kita kudu usaha gimana caranya supaya bisa kumpul bareng lagi :)

    BalasHapus
  7. long distance itu nggak enak, mbak.. saya juga sering ditinggal suami kerja... tapi, mau ikut juga susah.. no choice.. just sabar and enjoy life....

    BalasHapus
  8. iya, insya Allah menunggu saat yg tepat untuk kumpul bareng :)

    BalasHapus
  9. waah... ketemu satu lagi nih anggota long-distance :D
    yup...yup... sabar & enjoy it ;)

    BalasHapus
  10. alhmdulillah, dina dan suami g long distance :D

    BalasHapus
  11. Ga nyambung :p single-double-triple punya tantangan masing2.

    ~i'm single and i'm happy

    BalasHapus
  12. But double gonna be happier... :p
    *ga percaya? coba tanya mb.pita? :D

    BalasHapus
  13. @dina: alhamdulillah... Oya, afwan ya dina gak bisa datang nikahannya... Barakallahu ^^

    @mb dewi: yup, saya dulu pas single suka bgt dgn lagunya opie itu..hehe

    @ulin: karena fitrah manusia itu diciptakan berpasangan, maka ketika sudah menemukan belahan jiwanya insya Allah akan lebih bahagia drpd saat sendiri krn bagian yg "kosong" itu sdh terisi. Tapiiiii...tdk menutup mata jg bahwa ada org2 yg happier when they were single ;)

    BalasHapus
  14. ah... ulinuha tidak pernah liat pernikahan yang tidak bahagia kah? "Double" is not granting u any happiness.

    Kebahagiaan datang apabila kita menerima dengan ikhlas apa yang Tuhan beri, jika sudah diberi pasangan yang mendampingi, kita bahagia, jika belum, maka kita tidak menjadi kurang dari bahagia.

    Karena, semua ini yang menentukan kan Tuhan, mosok mau digugat ;) "Ya Tuhan, saya akan lebih bahagia kl ada suami" Hmm.. bukan tipe doa favoritku :p

    BalasHapus
  15. iya.. terutama yang masih suka lirak lirik kanan kiri :))

    Nikmati aja segala bentuk tantangan yang dihadapi Pit, untuk kasus LDR, u're not the only one. Itung2 memupuk perasaan percaya satu sama lain :)

    BalasHapus
  16. yups... tuh di atas udah ada anggota club yg lain...hehehe

    BalasHapus
  17. -->'ulinuha tidak pernah liat pernikahan yang tidak bahagia kah? "Double" is not granting u any happiness.'

    Pernah kok, di sinetron... :p
    masak sih "Double" is not granting u any happiness.?? coba dilogikain.. kalo menikah (double) tidak menjamin kebahagian trus mengapa Tuhan suruh? kalo memang tidak bahagia, bisa jadi ada yang salah dengan pernikahannya, trus tuhan ga ridho, jadi ya ga bahagia deh.

    Kebahagian kalo versi saya bukan karena kesenangan hidup atau banyaknya harta, tapi karena hati yang tentram. Nah tuhan sudah janjiin kalo nikah itu (berpasangan/double) bisa bikin hati tentram (QS Ar Ruum: 21).

    -->"Ya Tuhan, saya akan lebih bahagia kl ada suami" Hmm.. bukan tipe doa favoritku :p

    Ya sama, saya juga ga doa demikian...
    Doa favorit saya: "Ya Allah, ijinkan lah saya agar dapat segera menikah, agar hati ini menjadi tentram, Amin"... :D

    BalasHapus
  18. vote dewi.. *loh?*
    bahagia ato tidak itu kita yg menentukan koq!!! mo kondisi kayak apapun.
    aku dah berapa kali liat single yang keknya merana bangets dengan statusnya, akhirnya yg tertangkat ketidak ikhlasan dengan takdir Allah yang harus di jalani saat ini.
    berbahagia dengan ke-single-an bukan berarti mendewakan hidup single :D
    inget pepatah bijak, bahagia itu dekat dengan iman ;)
    so, single ato double ato triple ato quarter or more... :p yang penting happy !!!

    BalasHapus
  19. amiiiin...
    puspita like this... d^_^b

    BalasHapus
  20. Salam distant-married !!! hehehe...mari qta berdoa semoga bisa segera dipersatukan secara fisik dengan suami alias tinggal serumah...^__^ Amiiiin...Eh tp klo pita bukannya bs yak tinggal ikut diBandung?? kan dirimu bs apply ngajar2 disana bu???Apa di UI km dah jd dosen tetap?

    BalasHapus
  21. insya Allah sedang direncanakan bu...
    belom sih, di UI aku masih jadi cadangan...hihihi

    BalasHapus
  22. wah, diaminin mamten baru insya allah makbul nih... :D

    BalasHapus