Selasa, 28 Juni 2011

Cemburu?

Suatu hari di suatu tempat, seorang teman baru bertanya padaku..
Teman: "Suaminya kerja apa?"
Saya: "Dokter gigi"
T: "praktek sendiri?"
S: "iya"
T: "ada perawatnya?"
S: "ada"
T: "hati-hati lho.. banyak dokter yg selingkuh ama perawatnya. kan waktu mereka banyak dihabiskan berdua tuh"
S: (terdiam sejenak, lalu tersenyum) "aah, gak cuma dokter kok, pekerjaan apapun ada peluang utk selingkuh" :D

*****
Bukannya aku tidak pernah cemburu dengan suamiku.. Tentu saja pernah dan sering..haha. Punya suami yg humble dan mudah membuat orang "jatuh cinta" kadang membuatku ingin berkata padanya "jangan terlalu ramah sama orang, nanti disangka ada maksud lain". Aku baru tahu setelah menikah dengannya bahwa suamiku ini banyak sekali punya "his-mother/brother/sister-wanna-be". Karena sifatnya itu, maka kadang cemburuku tidak hanya ditujukan pada wanita yang potensial menjadi orang ketiga, tapi juga teman-teman lelakinya...hohoho. Apalagi kami belum memiliki momongan yang bisa dijadikan "pelarian" mencurahkan kasih sayang..=D

Peralahan tapi pasti, aku belajar untuk mengelola rasa cemburuku. Memang, kadang yg namanya selingkuh itu tidak hanya karena disengaja tapi juga karena ada kesempatan. Pernah baca sebuah note FB punya teman (lupa siapa), bahkan seorang ibu rumah tangga yg cuma diam di rumah pun bisa selingkuh. Nah lho...

Bukankah dalam berumah tangga itu dibutuhkan rasa percaya satu sama lain? Apakah aku percaya dengan suamiku??? YA. Insya Allah suamiku adalah lelaki beriman yang tahu bahwa Allah selalu melihatnya dimana pun ia berada..Jadi, bukankah lebih baik aku percayakan saja "pengawasan"nya kepada Yang Maha Melihat..maka akupun bisa tidur dengan nyenyak..hehe.

Hidup berumah tangga memang penuh seni dan perjuangan. Apalagi di jaman seperti ini... Belum lagi pengaruh berita2 seleb di media atau sinetron2 yg gak mutu tentang pembenaran atas tindakan hina itu. Bikin cemas dan was-was saja.. belum lagi buku NCHI yg baru2 ini kubaca....T__T
Oleh karena itu, harus lebih banyak belajar lagi bagaimana mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga karena ujian semacam ini mungkiiin (mungkin lho yaaaa) akan menghadang setiap pasangan. Tinggal apakah semua orang bisa melewatinya dengan mulus dan tetap bersatu, atau tercerai berai gagal dalam rintangan ini..

*untuk yang belum menikah, no need to worry ya ;)

Kamis, 23 Juni 2011

New Catatan Hati Seorang Istri

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Asma Nadia
Ketika pertama kali Mba Asma Nadia gembar-gembor menerbitkan kembali buku ini di FB, aku sudah menambahkannya ke dalam list buku yg ingin ku baca. Tapi karena jarang ke toko buku, jadi baru kesampaian sekitar sebulan lalu. Itupun beli online pas ada promo diskon paket dengan No Excuse!. Akhirnya, kesampaian juga baca bukunya..hehe.

Sama seperti buku2 Asma Nadia lainnya, buku ini memuat berbagai tulisan pendek mengenai curhatan atau pengalaman beliau terkait kehidupan seorang istri. Hanya dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menyelesaikan baca buku ini.

Overall saya sangat suka buku ini. Memberikan nasihat tapi tidak menggurui. Tak terhitung berapa kali aku mencurahkan air mata membacanya.. (dasar cengeng...hehe). Tapi, buku ini seolah kurang 'adil' memaparkan kehidupan seorang istri. Hampir semua ceritanya tentang perselingkuhan, kekerasan, pengkhianatan, dan "kekejaman" para suami lainnya terhadap wanita yg telah mengorbankan banyak hal untuk mendampingi hidupnya dan membesarkan anak-anaknya. Sedikit sekali cerita yang mengkisahkan sosok suami yg "pantas dikagumi".

Memang, kehidupan rumah tangga tidak hanya hal-hal yg indah saja. Mempertahankan cinta adalah sebuah perjuangan yg tiada akhir. Jika tidak kuat iman, maka akan mudah tergelincir ke jurang kehancuran. Bukankah iman itu naik dan turun?
Jatuh cinta lagi. Mengapa seperti sebuah ujian yg "pasti" menghampiri setiap pasangan dan menjadi alasan klise untuk mengkhianati pasangan yang telah diikrarkan untuk dijaga dengan penuh kasih sayang. Meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, tapi bukan menjadi pembenaran untuk mengakomodir rasa cinta yg datang tidak pada waktunya. Bahkan sepasang suami-istri yang dinobatkan sebagai pasangan yg sakinah, yg ideal, yg harmonis, dan berbagai sebutan manis lainnya, bisa hancur saat salah satu dari mereka jatuh cinta lagi pada orang lain.

Setelah membaca buku ini, saya jadi mellow....huhuhu.
Ada perasaan takut, bagaimana jika suatu hari ujian seperti itu hadir dalam perjalanan cinta kami? apa yg harus ku lakukan? mampukah aku untuk mempertahankannya menjadi milikku seorang?
Jika aku bisa menentukan takdir, aku ingin hanya berjodoh dengan suamiku seorang dan dia menjadi jodohku saja, hingga di yaumul akhir nanti...
Tapi takdir itu hak prerogatif Allah.. manusia hanya bisa menjalaninya dengan usaha yg terbaik..

"sudah, gak usah yg mikir yg aneh2.. perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yg perlu dipikirkan saat ini" begitu kata suamiku membuyarkan lamunanku di suatu senja :)

Jumat, 10 Juni 2011

That dream will come true..

it's time to write again...hehe
thanks to mba santi yg udah mempertanyakan kenapa blog ku akhir2 ini 'kering' :D
oke.. mari dimulai..

Dulu pas masih muda banget (skarang jg masih muda kok :p), saat masih senang2nya bermimpi.. saya pernah punya impian untuk sekolah lagi di negeri sakura. Kenapa Jepang? entahlah.. padahal saya bukan penggemar manga.. paling cuma Sailormoon, Candy-Candy, dan Detektif Conan. Itu pun gak yang ngebet banget utk koleksi setiap edisi komiknya atau nonton setiap episode serialnya di layar kaca.
Saya punya impian untuk menikmati indahnya suasana duduk di bawah pohon sakura yang sedang bersemi indah :)
Karena mimpi saya ini, saya bahkan sempat kursus bahasa Jepang selama 6 bulan.. lalu berhenti karena gak kuat harus menghapal huruf kanji yg makin lama makin keriting..hohoho

Setelah lulus S2, impian saya sedikit berubah. Ternyata bidang ilmu yg saya minati lebih berkembang di Eropa, Amerika atau yg terdekat Australia. Setiap kali membahas rencana kuliah lagi dengan teman2.. Jepang sudah saya coret dari daftar saya. Di dalam bayangan saya, Jepang sangat-sangat fokus pada teknologi dan science nya yang mana sangat-sangat menakutkan bagi saya (lebaaaay)

Setelah menikah, impian saya berubah lagi... (gak punya pendirian -__-)
Saya tidak lagi memimpikan untuk sekolah di luar negeri.. saya hanya ingin menemani suami yg sekolah di luar negeri...(terdengar lebih gampang...hehehe)
Dan kebetulan... saya mendapatkan suami yang punya passion dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya.. (sama donk??? hmmm...gak juga sih :D) Mulailah dia hunting2 program doktor dan mengontak profesor2 di luar negeri yg sempat masuk dalam daftar kenalannya...hehe.
Daaaan... gayung pun bersambut. Akhir agustus nanti Insya Allah suamiku akan berangkat ke negeri matahari terbit tersebut untuk menghadiri International Summer Program di sebuah universitas ternama di sana... dan rencananya akan dilanjutkan dengan program PhD... Hebbaaatt...
ternyata gak sia2 dulu sempat belajar bahasa jepang..meskipun sekarang sudah lupa lagi..hehe.

Lalu bagaimana dengan saya??
"Pita cari2lah peluang sekolah disana" begitu kata papaku
 Whaaaat?? PhD??? now??? (histeris mode on..hehe)
oh tidaaaak... saya merasa belum siap untuk menyandang gelar itu dibelakang namaku..
belum pede euy... takut otak gak mampu dan malah jadi stress lagi...huhuhu.
sempat terpikir untuk ambil S2 lagi aja apa ya? tapi kalau lihat2 website beberapa univ di Jepang yg ada jurusan IT nya..lagi2 tentang science and engineering :(
kok gak ada yg IT management ya?? fiuuh..

But anyway, I'm so proud of my hubby... ^^
He makes my dream is going true... insya Allah.