| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Asma Nadia |
Sama seperti buku2 Asma Nadia lainnya, buku ini memuat berbagai tulisan pendek mengenai curhatan atau pengalaman beliau terkait kehidupan seorang istri. Hanya dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menyelesaikan baca buku ini.
Overall saya sangat suka buku ini. Memberikan nasihat tapi tidak menggurui. Tak terhitung berapa kali aku mencurahkan air mata membacanya.. (dasar cengeng...hehe). Tapi, buku ini seolah kurang 'adil' memaparkan kehidupan seorang istri. Hampir semua ceritanya tentang perselingkuhan, kekerasan, pengkhianatan, dan "kekejaman" para suami lainnya terhadap wanita yg telah mengorbankan banyak hal untuk mendampingi hidupnya dan membesarkan anak-anaknya. Sedikit sekali cerita yang mengkisahkan sosok suami yg "pantas dikagumi".
Memang, kehidupan rumah tangga tidak hanya hal-hal yg indah saja. Mempertahankan cinta adalah sebuah perjuangan yg tiada akhir. Jika tidak kuat iman, maka akan mudah tergelincir ke jurang kehancuran. Bukankah iman itu naik dan turun?
Jatuh cinta lagi. Mengapa seperti sebuah ujian yg "pasti" menghampiri setiap pasangan dan menjadi alasan klise untuk mengkhianati pasangan yang telah diikrarkan untuk dijaga dengan penuh kasih sayang. Meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, tapi bukan menjadi pembenaran untuk mengakomodir rasa cinta yg datang tidak pada waktunya. Bahkan sepasang suami-istri yang dinobatkan sebagai pasangan yg sakinah, yg ideal, yg harmonis, dan berbagai sebutan manis lainnya, bisa hancur saat salah satu dari mereka jatuh cinta lagi pada orang lain.
Setelah membaca buku ini, saya jadi mellow....huhuhu.
Ada perasaan takut, bagaimana jika suatu hari ujian seperti itu hadir dalam perjalanan cinta kami? apa yg harus ku lakukan? mampukah aku untuk mempertahankannya menjadi milikku seorang?
Jika aku bisa menentukan takdir, aku ingin hanya berjodoh dengan suamiku seorang dan dia menjadi jodohku saja, hingga di yaumul akhir nanti...
Tapi takdir itu hak prerogatif Allah.. manusia hanya bisa menjalaninya dengan usaha yg terbaik..
"sudah, gak usah yg mikir yg aneh2.. perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yg perlu dipikirkan saat ini" begitu kata suamiku membuyarkan lamunanku di suatu senja :)
sy juga merasa gitu pas baca Catatan Hati seorang istri. Entahlah... jadi semacam ada trauma gitu. Dan akhirnya memilih menyingkirkan buku itu.. sy kasih ke teman...
BalasHapus:)
BalasHapusyg penting dapat intinya agar lebih bersiap diri untuk mencegah hal-hal buruk terjadi ataupun menentukan sikap yg terbaik saat hal tsb benar2 terjadi..
not recommended for single person wkwkwk
BalasHapushahaha..sepertinya mbak..
BalasHapusbikin takut nikah =P