Kali ini saya akan membahas tentang istri pekerja alias working-wife (bener ga ya istilahnya??). Sedikit berbeda dengan working-mother yang banyak dibahas di milis sebelah, maksudnya working-wife disini adalah istri yang bekerja tapi belum jadi ibu. Yah apapun sebutannya lah ya..hehe. Maka disini saya tidak akan bahas soal untung ruginya wanita bekerja terkait pendidikan anak. (seperti yang biasa dibahas dalam topik2 WM vs FTM)
Kalau baca postingan saya sebelumnya, rasanya saya sudah banyak "mengeluh" tentang hidup saya menjadi housewife beberapa bulan terakhir ini. Yang awalnya sangat bersemangat utk "liburan", jauh dari rutinitas kantor dan bereksperimen di dapur berganti menjadi rasa suntuk, jenuh, bosan, bete, bad-mood, dan sifat-sifat jelek lainnya. Akhirnya, beberapa pekan lalu saya beranikan diri untuk mengirim CV yang sudah lama kubuat tapi belum dikirim2 juga...hehe. Dan alhamdulillah..tanpa perlu menunggu waktu lama, saya mendapat panggilan interview dan dinyatakan LULUS...horeeeee!! So, insya Allah kalau tidak ada aral melintang, mulai bulan depan saya akan kembali menjadi working-wife =D
Menjadi wanita pekerja sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dalam keluarga besar saya. Ibu saya adalah wanita pekerja. Hampir semua tante-tante saya juga wanita pekerja (hanya 2 dari 11 yang memilih menjadi FTM). Makanya, selama hampir 6 bulan ini saya menganggur...rasanya gimanaaaa gitu. Sepertinya menyalahi tradisi keluarga (lebaaaay). Saya teringat perkataan guru ngaji saya ketika SMU dulu. Beliau bilang, wanita bekerja karena 3 alasan:
1. membantu orang tua
2. membantu suami
3. karena seorang janda (jadi harus menghidupi diri sendiri)
Kok alasan ekonomi semua ya?? Yaa, karena alasan terbesar orang bekerja adalah untuk mencari uang. Apalagi jaman sekarang gituloh, semua serba muaaahaaal.
Memang dalam Islam, wanita tidak diwajibkan untuk mencari nafkah. Tapi Islam juga tidak melarangnya. Sebagaimana ibunda Khadijah r.a yang merupakan seorang pengusaha (alias wanita pekerja juga). Nah, dijaman sekarang ini, banyak alasan yang mendorang wanita untuk bekerja, bahkan setelah dia menikah (kan logikanya, klo dah nikah jadi tanggungan suami sehiangga gak perlu capek2 nyari duit). Ada yang karena alasan membantu suami agar dapur tetap ngebul, ada yang karena sudah terlanjur sekolah tinggi2, ada yg karena sayang meninggalkan karir yg dirintis dari masa lajang, sampai yang hanya ingin mencari aktivitas di luar rumah. Apapun alasannya, wanita jaman sekarang sepertinya lebih banyak yg memilih utk bekerja dari pada hanya stay di rumah.
Nah, as a working-wife tentunya ada rambu-rambu yang harus dipatuhi agar rumah tangga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Banyak kasus perceraian terjadi pada rumah tangga yg suami-istri bekerja. Mulai dari kasus perselingkuhan, intensitas pertemuan yang berkurang (akhirnya rumah tak hangat lagi), sampai ke alasan ekonomi. Seperti makan buah simalakama ya bekerja ini..hehe. Alasan ekonomi yg seperti apa? Saat istri punya penghasilan yang lebih besar dari suaminya.
Sebagai laki-laki, tentu punya ego untuk menjadi superior dalam keluarga. Ada lelaki yg tidak bisa menerima saat istrinya lebih "sukses" dibanding dirinya. Atau bisa juga, sang istri lah yang merasa sudah punya banyak uang, sehingga merasa "tak butuh" lagi. Nah, untuk masalah ini, jauh-jauh hari sebelum saya menikah, mama saya pernah berpesan..
"jika suatu hari penghasilanmu lebih besar dari suamimu, jangan pernah sombong dihadapannya. jangan pernah merendahkannya ataupun menyinggung-nyinggung soal uang"
Saya sangat bangga dengan mama saya. Dan saya rasa, beliau amat sangat pantas menasehati saya mengenai hal tersebut. Beliau sudah berpengalaman menjadi tulang punggung keluarga untuk kurun waktu tertentu saat papaku sedang melanjutkan studinya. Tapi mama tidak pernah menunjukkan sifat arogansinya karena punya uang lebih banyak (kayak di sinetron2 gitu.. =D). I am so proud of you mom!
Apapun alasan saya kembali bekerja (biarlah hanya saya, suami dan Allah yg tahu), saya harap agar nanti tetap bisa seimbang dalam menjalani karir dan kehidupan rumah tangga saya. Doakan ya temans ;)
amiin..
BalasHapussiiip... insyaallah ;)
BalasHapuslike this :)
BalasHapusakhirnya... lebih lega kan klo udah ambil keputusan... :) klo masih bs berkarya, kita berkarya, klo gak bs ya sudah dirumah dulu... hihihi... good luck ya pit :)
BalasHapuspengen berbagi pengalaman aja mbak....
BalasHapuskeputusan istriku untuk menjadi working mother/ working wife diawali dengan merasa tidak betahnya di rumah, kemudian makin lama kebutuhan rumah tangga yang makin naik,namun ternyata belakangan bukan alasan2 itu yang justru dirasa lebih dominan. ternyata eksistensi diri. merasa sayang sudah di sekolahkan tinggi oleh orang tua. disamping itu dengan bekerja merasa lebih menghargai waktu dan kasih sayang thd anak dan suami.
terima kasih ya semuanya :)
BalasHapushaha..iya pak...
BalasHapusklo sudah sampe tahapan butuh eksistensi diri.. artinya kebutuhan yg lain2 sdh terpenuhi (menurut teori Moslow :D)
tapi memang harapannya dgn bekerja bisa mengoptimalkan waktu lg... klo skarang kebanyakan bermalasan2nya...hehe