Rabu, 13 Juli 2011

to be a (good) working-wife

Kali ini saya akan membahas tentang istri pekerja alias working-wife (bener ga ya istilahnya??). Sedikit berbeda dengan working-mother yang banyak dibahas di milis sebelah, maksudnya working-wife disini adalah istri yang bekerja tapi belum jadi ibu. Yah apapun sebutannya lah ya..hehe. Maka disini saya tidak akan bahas soal untung ruginya wanita bekerja terkait pendidikan anak. (seperti yang biasa dibahas dalam topik2 WM vs FTM)

Kalau baca postingan saya sebelumnya, rasanya saya sudah banyak "mengeluh" tentang hidup saya menjadi housewife beberapa bulan terakhir ini. Yang awalnya sangat bersemangat utk "liburan", jauh dari rutinitas kantor dan bereksperimen di dapur berganti menjadi rasa suntuk, jenuh, bosan, bete, bad-mood, dan sifat-sifat jelek lainnya. Akhirnya, beberapa pekan lalu saya beranikan diri untuk mengirim CV yang sudah lama kubuat tapi belum dikirim2 juga...hehe. Dan alhamdulillah..tanpa perlu menunggu waktu lama, saya mendapat panggilan interview dan dinyatakan LULUS...horeeeee!! So, insya Allah kalau tidak ada aral melintang, mulai bulan depan saya akan kembali menjadi working-wife =D

Menjadi wanita pekerja sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dalam keluarga besar saya. Ibu saya adalah wanita pekerja. Hampir semua tante-tante saya juga wanita pekerja (hanya 2 dari 11 yang memilih menjadi FTM). Makanya, selama hampir 6 bulan ini saya menganggur...rasanya gimanaaaa gitu. Sepertinya menyalahi tradisi keluarga (lebaaaay). Saya teringat perkataan guru ngaji saya ketika SMU dulu. Beliau bilang, wanita bekerja karena 3 alasan:
1. membantu orang tua
2. membantu suami
3. karena seorang janda (jadi harus menghidupi diri sendiri)
Kok alasan ekonomi semua ya?? Yaa, karena alasan terbesar orang bekerja adalah untuk mencari uang. Apalagi jaman sekarang gituloh, semua serba muaaahaaal.

Memang dalam Islam, wanita tidak diwajibkan untuk mencari nafkah. Tapi Islam juga tidak melarangnya. Sebagaimana ibunda Khadijah r.a yang merupakan seorang pengusaha (alias wanita pekerja juga). Nah, dijaman sekarang ini, banyak alasan yang mendorang wanita untuk bekerja, bahkan setelah dia menikah (kan logikanya, klo dah nikah jadi tanggungan suami sehiangga gak perlu capek2 nyari duit). Ada yang karena alasan membantu suami agar dapur tetap ngebul, ada yang karena sudah terlanjur sekolah tinggi2, ada yg karena sayang meninggalkan karir yg dirintis dari masa lajang, sampai yang hanya ingin mencari aktivitas di luar rumah. Apapun alasannya, wanita jaman sekarang sepertinya lebih banyak yg memilih utk bekerja dari pada hanya stay di rumah.

Nah, as a working-wife tentunya ada rambu-rambu yang harus dipatuhi agar rumah tangga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Banyak kasus perceraian terjadi pada rumah tangga yg suami-istri bekerja. Mulai dari kasus perselingkuhan, intensitas pertemuan yang berkurang (akhirnya rumah tak hangat lagi), sampai ke alasan ekonomi. Seperti makan buah simalakama ya bekerja ini..hehe. Alasan ekonomi yg seperti apa? Saat istri punya penghasilan yang lebih besar dari suaminya.

Sebagai laki-laki, tentu punya ego untuk menjadi superior dalam keluarga. Ada lelaki yg tidak bisa menerima saat istrinya lebih "sukses" dibanding dirinya. Atau bisa juga, sang istri lah yang merasa sudah punya banyak uang, sehingga merasa "tak butuh" lagi. Nah, untuk masalah ini, jauh-jauh hari sebelum saya menikah, mama saya pernah berpesan..

"jika suatu hari penghasilanmu lebih besar dari suamimu, jangan pernah sombong dihadapannya. jangan pernah merendahkannya ataupun menyinggung-nyinggung soal uang"

Saya sangat bangga dengan mama saya. Dan saya rasa, beliau amat sangat pantas menasehati saya mengenai hal tersebut. Beliau sudah berpengalaman menjadi tulang punggung keluarga untuk kurun waktu tertentu saat papaku sedang melanjutkan studinya. Tapi mama tidak pernah menunjukkan sifat arogansinya karena punya uang lebih banyak (kayak di sinetron2 gitu.. =D). I am so proud of you mom!

Apapun alasan saya kembali bekerja (biarlah hanya saya, suami dan Allah yg tahu), saya harap agar nanti tetap bisa seimbang dalam menjalani karir dan kehidupan rumah tangga saya. Doakan ya temans ;)

Selasa, 28 Juni 2011

Cemburu?

Suatu hari di suatu tempat, seorang teman baru bertanya padaku..
Teman: "Suaminya kerja apa?"
Saya: "Dokter gigi"
T: "praktek sendiri?"
S: "iya"
T: "ada perawatnya?"
S: "ada"
T: "hati-hati lho.. banyak dokter yg selingkuh ama perawatnya. kan waktu mereka banyak dihabiskan berdua tuh"
S: (terdiam sejenak, lalu tersenyum) "aah, gak cuma dokter kok, pekerjaan apapun ada peluang utk selingkuh" :D

*****
Bukannya aku tidak pernah cemburu dengan suamiku.. Tentu saja pernah dan sering..haha. Punya suami yg humble dan mudah membuat orang "jatuh cinta" kadang membuatku ingin berkata padanya "jangan terlalu ramah sama orang, nanti disangka ada maksud lain". Aku baru tahu setelah menikah dengannya bahwa suamiku ini banyak sekali punya "his-mother/brother/sister-wanna-be". Karena sifatnya itu, maka kadang cemburuku tidak hanya ditujukan pada wanita yang potensial menjadi orang ketiga, tapi juga teman-teman lelakinya...hohoho. Apalagi kami belum memiliki momongan yang bisa dijadikan "pelarian" mencurahkan kasih sayang..=D

Peralahan tapi pasti, aku belajar untuk mengelola rasa cemburuku. Memang, kadang yg namanya selingkuh itu tidak hanya karena disengaja tapi juga karena ada kesempatan. Pernah baca sebuah note FB punya teman (lupa siapa), bahkan seorang ibu rumah tangga yg cuma diam di rumah pun bisa selingkuh. Nah lho...

Bukankah dalam berumah tangga itu dibutuhkan rasa percaya satu sama lain? Apakah aku percaya dengan suamiku??? YA. Insya Allah suamiku adalah lelaki beriman yang tahu bahwa Allah selalu melihatnya dimana pun ia berada..Jadi, bukankah lebih baik aku percayakan saja "pengawasan"nya kepada Yang Maha Melihat..maka akupun bisa tidur dengan nyenyak..hehe.

Hidup berumah tangga memang penuh seni dan perjuangan. Apalagi di jaman seperti ini... Belum lagi pengaruh berita2 seleb di media atau sinetron2 yg gak mutu tentang pembenaran atas tindakan hina itu. Bikin cemas dan was-was saja.. belum lagi buku NCHI yg baru2 ini kubaca....T__T
Oleh karena itu, harus lebih banyak belajar lagi bagaimana mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga karena ujian semacam ini mungkiiin (mungkin lho yaaaa) akan menghadang setiap pasangan. Tinggal apakah semua orang bisa melewatinya dengan mulus dan tetap bersatu, atau tercerai berai gagal dalam rintangan ini..

*untuk yang belum menikah, no need to worry ya ;)

Kamis, 23 Juni 2011

New Catatan Hati Seorang Istri

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Asma Nadia
Ketika pertama kali Mba Asma Nadia gembar-gembor menerbitkan kembali buku ini di FB, aku sudah menambahkannya ke dalam list buku yg ingin ku baca. Tapi karena jarang ke toko buku, jadi baru kesampaian sekitar sebulan lalu. Itupun beli online pas ada promo diskon paket dengan No Excuse!. Akhirnya, kesampaian juga baca bukunya..hehe.

Sama seperti buku2 Asma Nadia lainnya, buku ini memuat berbagai tulisan pendek mengenai curhatan atau pengalaman beliau terkait kehidupan seorang istri. Hanya dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menyelesaikan baca buku ini.

Overall saya sangat suka buku ini. Memberikan nasihat tapi tidak menggurui. Tak terhitung berapa kali aku mencurahkan air mata membacanya.. (dasar cengeng...hehe). Tapi, buku ini seolah kurang 'adil' memaparkan kehidupan seorang istri. Hampir semua ceritanya tentang perselingkuhan, kekerasan, pengkhianatan, dan "kekejaman" para suami lainnya terhadap wanita yg telah mengorbankan banyak hal untuk mendampingi hidupnya dan membesarkan anak-anaknya. Sedikit sekali cerita yang mengkisahkan sosok suami yg "pantas dikagumi".

Memang, kehidupan rumah tangga tidak hanya hal-hal yg indah saja. Mempertahankan cinta adalah sebuah perjuangan yg tiada akhir. Jika tidak kuat iman, maka akan mudah tergelincir ke jurang kehancuran. Bukankah iman itu naik dan turun?
Jatuh cinta lagi. Mengapa seperti sebuah ujian yg "pasti" menghampiri setiap pasangan dan menjadi alasan klise untuk mengkhianati pasangan yang telah diikrarkan untuk dijaga dengan penuh kasih sayang. Meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, tapi bukan menjadi pembenaran untuk mengakomodir rasa cinta yg datang tidak pada waktunya. Bahkan sepasang suami-istri yang dinobatkan sebagai pasangan yg sakinah, yg ideal, yg harmonis, dan berbagai sebutan manis lainnya, bisa hancur saat salah satu dari mereka jatuh cinta lagi pada orang lain.

Setelah membaca buku ini, saya jadi mellow....huhuhu.
Ada perasaan takut, bagaimana jika suatu hari ujian seperti itu hadir dalam perjalanan cinta kami? apa yg harus ku lakukan? mampukah aku untuk mempertahankannya menjadi milikku seorang?
Jika aku bisa menentukan takdir, aku ingin hanya berjodoh dengan suamiku seorang dan dia menjadi jodohku saja, hingga di yaumul akhir nanti...
Tapi takdir itu hak prerogatif Allah.. manusia hanya bisa menjalaninya dengan usaha yg terbaik..

"sudah, gak usah yg mikir yg aneh2.. perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yg perlu dipikirkan saat ini" begitu kata suamiku membuyarkan lamunanku di suatu senja :)

Jumat, 10 Juni 2011

That dream will come true..

it's time to write again...hehe
thanks to mba santi yg udah mempertanyakan kenapa blog ku akhir2 ini 'kering' :D
oke.. mari dimulai..

Dulu pas masih muda banget (skarang jg masih muda kok :p), saat masih senang2nya bermimpi.. saya pernah punya impian untuk sekolah lagi di negeri sakura. Kenapa Jepang? entahlah.. padahal saya bukan penggemar manga.. paling cuma Sailormoon, Candy-Candy, dan Detektif Conan. Itu pun gak yang ngebet banget utk koleksi setiap edisi komiknya atau nonton setiap episode serialnya di layar kaca.
Saya punya impian untuk menikmati indahnya suasana duduk di bawah pohon sakura yang sedang bersemi indah :)
Karena mimpi saya ini, saya bahkan sempat kursus bahasa Jepang selama 6 bulan.. lalu berhenti karena gak kuat harus menghapal huruf kanji yg makin lama makin keriting..hohoho

Setelah lulus S2, impian saya sedikit berubah. Ternyata bidang ilmu yg saya minati lebih berkembang di Eropa, Amerika atau yg terdekat Australia. Setiap kali membahas rencana kuliah lagi dengan teman2.. Jepang sudah saya coret dari daftar saya. Di dalam bayangan saya, Jepang sangat-sangat fokus pada teknologi dan science nya yang mana sangat-sangat menakutkan bagi saya (lebaaaay)

Setelah menikah, impian saya berubah lagi... (gak punya pendirian -__-)
Saya tidak lagi memimpikan untuk sekolah di luar negeri.. saya hanya ingin menemani suami yg sekolah di luar negeri...(terdengar lebih gampang...hehehe)
Dan kebetulan... saya mendapatkan suami yang punya passion dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya.. (sama donk??? hmmm...gak juga sih :D) Mulailah dia hunting2 program doktor dan mengontak profesor2 di luar negeri yg sempat masuk dalam daftar kenalannya...hehe.
Daaaan... gayung pun bersambut. Akhir agustus nanti Insya Allah suamiku akan berangkat ke negeri matahari terbit tersebut untuk menghadiri International Summer Program di sebuah universitas ternama di sana... dan rencananya akan dilanjutkan dengan program PhD... Hebbaaatt...
ternyata gak sia2 dulu sempat belajar bahasa jepang..meskipun sekarang sudah lupa lagi..hehe.

Lalu bagaimana dengan saya??
"Pita cari2lah peluang sekolah disana" begitu kata papaku
 Whaaaat?? PhD??? now??? (histeris mode on..hehe)
oh tidaaaak... saya merasa belum siap untuk menyandang gelar itu dibelakang namaku..
belum pede euy... takut otak gak mampu dan malah jadi stress lagi...huhuhu.
sempat terpikir untuk ambil S2 lagi aja apa ya? tapi kalau lihat2 website beberapa univ di Jepang yg ada jurusan IT nya..lagi2 tentang science and engineering :(
kok gak ada yg IT management ya?? fiuuh..

But anyway, I'm so proud of my hubby... ^^
He makes my dream is going true... insya Allah.

Sabtu, 14 Mei 2011

aku pejuang!

berhentilah terlena dalam fatamorgana
karena hidup bukan sekedar cerita
ada suka dan ada duka
kadang tawa kadang air mata

tapi aku tak kan menyerah
karena aku adalah pejuang!
ya..aku pejuang!
dan aku telah membuktikannya..
meski perjuanganku mungkin tak sekeras mereka
tapi aku mampu untuk berdiri tegar melawan derasnya arus kehidupan

dan aku adalah pejuang!
meski sesekali air mataku mengalir deras
tapi bukan berarti aku menyerah..
aku tak akan menyerah!
semua itu untuk menjadikanku lebih kuat ..
karna begitulah Tuhan menciptakan wanita

sekali lagi aku katakan bahwa aku adalah pejuang!
tak perlu kau ragu padaku..
aku mengerti maksudmu..
dan aku hanya butuh lebih banyak waktu
untuk membuktikan diriku adalah pejuang!

Selasa, 08 Maret 2011

Desperate Housewife??

36 hari sudah aku menjalani peranan sebagai housewife alias ibu rumah tangga. Setelah resign dari kantor akhir januari kemarin, aku langsung hijrah ke kota kembang.. Alhamdulillah akhirnya bisa berkumpul dengan suami setelah hampir setahun (saat itu) kami menikah. Dan sekarang, resmilah aku secara de facto (belum secara de jure secara belum punya KTP bandung =P) menjadi warga bandung.

Sejak sebelum resign, kala itu teman dan keluarga memang sering menanyakan apakah aku sudah mendapatkan tempat kerja baru di bandung nantinya. Dengan santai aku menjawab "belum, mau istirahat dulu". Ya, saat itu, mungkin karena aku sedang dihadang oleh kerjaan yang bertubi-tubi sampai sulit bernapas rasanya (lebay deh ah..hehe) yang ada dalam pikiranku hanyalah istirahat di rumah, menikmati hari-hariku tanpa ketemu klien, tanpa tuntutan deadline, dan tanpa bermacet ria di jalanan. Ketika kerjaan menumpuk, aku dan suami memang sudah merencanakan untuk hanimun lagi setelah aku resign, yaitu di bulan februari. Hitung-hitung sekalian refreshing dan memberi hadiah pada diriku sendiri atas kerja keras selama ini (maklum, dari kantor gak difasilitasi.. =D)

Lalu apa yang aku lakukan sepanjang hari di rumah? Memasak. Kegiatan baru ini awalnya sangat aku nikmati. Masak lauk pauk maupun sekedar camilan sebagai eksperimenku dari hasil hunting resep di internet...hehe. Dan yang lebih bahagia lagi adalah ketika melihat suami memakannya dengan lahap. Alhamdulillah.. Selain memasak, tentu saja kegiatanku adalah bersih-bersih rumah dan bersantai ria menikmati hiburan di televisi.

Sebulan menjadi housewife hampir dipastikan kerjaanku itu-itu saja. Dan ujian keikhlasan pun mulai berdatangan satu per satu. Suami yang bekerja diluar jam kantor pada umumnya, maklum dokter gigi yang kebanyakan praktek malam, membuatku harus lebih banyak sendiri di rumah. KESEPIAN. Sedangkan paginya suami juga sering ada aktivitas yang lain. Masakan yang aku buat pun kadang harus aku makan sendiri karena suami tidak sempat pulang ke rumah untuk makan atau mendapat undangan dari teman-temannya. KECEWA. Alhasil, tak jarang aku uring-uringan terhadap suamiku, minta perhatian. Tapi suamiku hanyalah manusia biasa. Lelah aktivitas seharian membuatnya kadang tak menggubris kemanjaanku itu. SEDIH. Belum lagi perubahan pola hidupku yang dulu selalu sibuk eight-to-five, dengan segala dinamika dan pencapaiannya, kadang membuatku CEMBURU dengan kesibukan suami di luar sana.

Keinginan untuk kembali beraktivitas rutin di luar rumah pun kembali muncul. BEKERJA. Yaa, aku ingin bekerja. Fully-housewife (not fully-mother) sepertinya bukan "pilihan" hidupku. Bekerja bukan hanya untuk mencari tambahan uang belanja, tapi lebih kepada mengekspresian diri, mencari pencapaian-pencapai sebagai salah satu kebutuhan manusia menurut need's pyramid (teori siapa ya?? lupa). Sebenaranya suami sudah setuju dan membolehkan pilihan profesi apapun yang aku mau, asal tetap bisa menempatkan prioritas bagi keluarga jika sudah punya momongan nanti. Tapiiii, aku juga belum beranjak dari posisi ku saat ini.. BINGUNG. Don't know what I want! Membuatku semakin desperado...huhuhuhu T_T

Yah, apapun pilihan profesi yang aku pilih dan Allah pilihkan untukku nanti, semoga tidak membuaku menjadi semakin desperate. Not as a housewife either a career woman.. =(

Kamis, 20 Januari 2011

Napak tilas..

Pagi ini akhirnya kuputuskan juga untuk berangkat ke Depok..walaupun badan rasanya mualaaaaasss banget... 

Target hari ini adalah mengurus rekening di sebuah bank yang buka cabang di kampus UI (gak perlu disebut lah ya.. hehe), mengambil surat keterangan dari fakultas, sampai menghadiri makan2 perpisahan salah satu temen kantor yang diterima kerja di tempat yang lebih baik..amiiin.. (padahal aku udah lama gembar-gembor mau keluar, eeeh..ternyata keduluan )

Pagi-pagi aku putuskan untuk berjalan kaki menuju fakultas MIPA tempat bank tersebut berada (yaaah..ketahuan deh..hihi). Sekalian olahraga pagi, aku melintasi jalan belakang rektorat, melewati kampus MIPA (yang juga tempat kerjaku dulu) dan horeee...aku sampai... Tapiiii... ketika sampai di dekat kantor lamaku itu... aku melihat segerombolan orang seperti sedang diskusi di pinggiran gedung... yaah, ku pikir hanya mahasiswa...
Tapiiii... semakin mendekat, kok kayaknya kenal ya??? hoalaaaah..itu mantan bosku dulu...waduuuh, lagi males basa-basi nih.. pura2 gak lihat aja aaah *sambil ngeloyor pergi
Eh, pas di tengah jalan...tak bisa kuhindarkan lagi.. aku bertemu juga dengan salah seorang staf di sana yang juga mantan teman sekantorku pastinya..
"eh, mbak...apa kabar?? dimana sekarang??" sapa si bapak2 separuh baya itu sambil mengulurkan tangannya untuk kujabat...
"baik pak, sekarang masih di fasilkom" jawabku sambil mesem2 dan mengatupkan kedua tanganku tanda aku tidak bisa menerima jabatan tangannya itu...
"oooh..ya..yaa.." jawab si Bapak sambil senyum2 padaku
langsung saja aku jalan perlahan pura-pura terburu-buru sambil menitipkan salam buat yang lain kepada si Bapak...
"eh mbak, siapa namanya ya?" tanya si bapak sambil setengah teriak..
"puspita.." jawabku dilengkapi dengan senyum manis tentunya

sejujurnya aku juga lupa nama si Bapak... yang aku ingat beliau salah satu teknisi di laboratorium di jurusan tersebut..

Ketika sampai di bank yang kutuju... oh noooo...ada lagiiiii..
seorang dosen dari kantorku dulu... pura-pura gak lihat ahhhh... sambil mempercepat langkah kakiku ke tempat ATM. Eh ternyataaaaa.... si bapak juga mau ke ATM..siallll
Pas keluar, akhirnya ku beri senyum manis saja buat si Bapak...dan beliau hanya terbengong2.. paling juga disangka mantan mahasiswanya..hehe.

Selesai urusanku di bank, aku putuskan untuk menunggu di halte terdekat... aku ingin naik BIKUN (bis kuning) lagiiii... Ketika aku sampai di halte, disana ada jadwal pukul berapa saja si bis akan sampai di halte tersebut... ku lihat jam di tanganku..baru pukul 10. dan yang kulihat di sana, bus pertama akan datang pada pukul 10.21.. haaaaah??? mau jamuran aku disini?? selain itu ada keterangan di bawahnya, bahwa jadwal tersebut tidak berlaku saat libur semester a.k.a saat ini... uuuu yeaaaah..daripada aku lumutan di halte, mending aku lanjutkan perjalananku yang panjang ini...

Angin sepoy-sepoy mengiringi perjalananku menyusuri jalan lingkar luar UI dari MIPA ke FKM.. ternyata banyak yang berubah lho... di dekat FKM dibangun jalan yang aku juga tak mengerti buat apa.. tapi cukup bagus kalau dipakai olahraga oleh masyarakat sekitar...
Saat aku menoleh ke belakang...ternyataaaa ada bikuuuun...huhuhu..
langsung lah aku berlari2 mengejar si bus yang perlahan tapi pasti menuju halte FKM..
hosh...hosh.. berasa mahasiswa lagi 

Horeeee...akhirnya naik bikun lagi... *noraaaak*
dan untungnya aku naik bis, karena tak lama setelah itu hujan deras melanda UI dan sekitarnya..
Ketika turun di halte FH, seperti jaman dahulu kala, karena Fasilkom tidak punya halte yang dilalui bikun.. *menyedihkan* hujan deras menyambutku...
Untuk bawa payung, tapi tetap basah kuyup...huhuhu.

Yaaah, lumayanlah sebagai kenang2an dan napak tilas sebelum aku pergi jauh dari kampus ini... *melankolis mode on*