Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia...
Ya..ya..ya.. berawal dari mimpi untuk bisa meraih jenjang akademik yang lebih tinggi dari papaku. Setidaknya itulah yang sering beliau tanamkan kepada anak-anaknya. "Papa aja bisa S2, masa anak2nya kalah..?" Selain karena "suruhan" papa itu, aku juga termotivasi untuk menjadi Doktor karena aku tidak bisa menjadi Dokter seperti keluarga ku yang lain... mmmm... gak juga dink
Dulu, saat aku menjalani studi S2, aku berencana untuk menikah sambil S2. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Skenario yang dibuat untukku adalah setelah aku lulus dari S2. Namun, beberapa bulan setelah lulus S2 pun aku tak kunjung mendapati seorang lelaki yang berani melamarku. Maka terbersitlah dalam benakku, "pokoknya...ada atau tiada pendamping hidup di umur 25, aku akan mengejar mimpiki untuk sekolah lagi" Meskipun mamaku agak worry... nanti tambah gak ada yang berani untuk mempersuntingku..hehe.
Dan ternyata, Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengan jodohku sebelum umur 25. Mungkin ini jawaban dari doa mama yang takut anaknya "nekat" ambil S3..hehe. Setelah menikah, entah mengapa mimpi itu perlahan-lahan sepertinya mulai aku lupakan. Meskipun suamiku tidak pernah mengekangku untuk sekolah lagi, bahkan kami punya cita-cita yang sama untuk S3 ke luar negeri (kapan ya say??
huuff... mimpi itu kadang datang dan pergi..
mungkin emang harus meluruskan niat lagi..
mengejar mimpi bukan hanya sekedar gengsi..
tapi menuntut ilmu untuk derajat yang lebih tinggi di sisi Illahi..
Mba Pita, saya termasuk yang walau sedang kuliah masih sering dilanda perasaan bersalah...tidak mampu optimal sebagai ibu dan istri. Paragraf terakhir bener bgt ya Mba...Terimakasih sudah menginspirasi ^^
BalasHapusthank you for your comment...
BalasHapushow do you measure that my blog are quite useful??
waaah... ada orangnya.. jadi malu aku...hehe.
BalasHapussama2 bu... neta juga memberi inspirasi utk lanjut sekolah lagi =D
jadi teringat seorang anak dari temen dekatku di smp dulu bilang "aku ga mau ah jadi anaknya om erwin. sekolahnya terlalu tinggi (hihi... padahal baru S2) aku ga mampu mengejarnya nanti".
BalasHapusmendidik anak ga dari hasil kuliah di bangku PT tapi ada korelasi positif bahwa cara dan pola pikir yang sekolah tinggi akan memperngaruhi hasil mendidik anak.
ayo mbak kejarlah ilmu mesti harus menempuh gurun, menyeberangi lautan hingga negeri china. sebagai calon madrasatul 'ula persiapkan sebaik-baiknya bekal itu
:)
naaah, itu pak..
BalasHapusklo suamiku S3, aku juga S3, kan kasian anaknya... minimal harus S3 doonk..hehe.