Senin, 05 Juli 2010

Total Cost of Ownership

Aku teringat sebuah reality show yang berjudul "Rumah Hadiah" (apa Hadiah Rumah ya??) di sebuah stasiun TV swasta. Konsepnya mirip dengan acara serupa yang sudah berjalan sebelumnya, Bedah Rumah. Tim Acara akan memilih target dari masyarakan menengah ke bawah yang tinggal di sebuah tempat yang bisa dibilang tidak layak huni. Ada yang di kolong jembatan, tempat kumuh, bantaran sungai dan daerah-daerah tak layak tinggal lainnya. Mulai dari yang berdinding kardus hingga berdinding bata tapi sudah bobrok. Rata-rata penghasilan sang kepala keluarga sangat minim untuk menghidupi anggota keluarganya. Kalau bisa dibilang, untuk makan aja susah apalagi mau renovasi rumah...

Nah, di sinilah program reality show ini memberikan "bantuan" kepada mereka. Bedanya, kalau Bedah Rumah, rumah si target "hanya" diperbaiki sehingga layak huni, tapi tetap di lokasi yang sama. Sedangkan, untuk acara Rumah Hadiah, tak tanggung-tanggung, si target di belikan rumah baru di lokasi yang baru pula tentunya. Dulu pas nonton, kalau tidak salah diberikan rumah RSS (entah tipe berapa dan S-nya berapa :P) tapi menurutku jauuuuh lebih bagus (tentunya) dari rumahnya yang lama. Satu keluarga itu kemudian diboyong oleh tim acara tersebut untuk menempati rumah barunya. Kalau tidak salah (lagi), si kepala keluarga "hanya" seorang pemulung di suatu TPA di Jakarta. Wooow, mimpi apa ya tuh bapak bisa dapet rumah sebagus itu sedangkan penghasilannya yang buat makan anak-istri aja kadang kurang.

Lalu kemudian aku berpikir.... Betah gak ya keluarga itu disana? apakah tim acara itu (jika beneran ngasih rumah tersebut =P) memantau kondisi keluarga tersebut pasca kepindahan mereka di lingkungan baru? Coba pikir, misalnya pendapatan tuh bapak hanya cukup buat makan, trus bagaimana dengan biaya untuk bayar listrik, PDAM, PBB, dan biaya-biaya retribusi lainnya yang muncul saat kita hidup bermasyarakat di perumahan seperti itu (uang keamanan, uang sampah, iuran RT, de el el). Apalagi TDL tiap tahun naik. Kalau di rumahnya yang dulu, mungkin listriknya pakai yang daya kecil sehingga bisa digolongkan "masyarakat miskin". Nah, kalau tempat tinggal yang baru? gimana kalau ternyata masuk ke golongan "menengah"? Kan kasihan tuh bapak, keringanan gak dapet padahal sebenarnya orang yang gak mampu juga, tapi karena tempat tinggal yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya... apa mau di kata??

Belum lagi masalah lokasi kerja. Misalnya dulu saat harus berangkat kerja atau jarak dengan sekolah anak bisa ditempuh dengan jalan kaki, bagaimana dengan kondisi yang baru? Syukur-syukur kalau emang tidak terlalu jauh. Nah kalau jauh, kan nambah lagi biaya bulanan buat ongkos. Adalagi masalah sosial, "kesetaraan" dengan tetangga. Kalau gap yang ada terlalu jauh, bisa jadi tekanan batin juga kan buat keluarga tersebut. Fiuuh...

Kembali ke judul postingan ini, Total Cost of Ownership. Mungkin keluarga tersebut tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk pembelian rumah. Tapi, bagaimana dengan biaya pemeliharaan setelahnya? termasuk hal-hal yang saya jabarkan di atas... Kalau misalnya biaya kepemilikan (baca: total biaya yang harus dikeluarkan karena memiliki) rumah tersebut ternyata jauh lebih mahal dan memberatkan mereka, mungkin tinggal di tempat semula adalah "pilihan" yang lebih baik. CMIIW

~sebuah pemikiran lama yang baru sempat tertuang sekarang

4 komentar:

  1. Jual rumahnya, balik lagi ke tempat lama.. sapa tau ada orang laen yang mo ngasih rumah lagi
    ~cara pikir oknum2 transmigran =D

    BalasHapus
  2. hahaha... mba dew berpengalaman nih?? =P

    BalasHapus
  3. setuju sama mbak dewii...jual ajaa... :)

    BalasHapus
  4. hmm.. kira2 ada "kontrak" gak ya sama acara tsb kalau rumah tsb gak boleh dijual ke pihak lain...hehe

    BalasHapus