Kamis, 30 Desember 2010
new year...new life...
tinggal menghitung hari untuk memulai hidup baru.. eits, bukannya mau nikah lagi yak :P
Tak heran bila saat orang menikah, yang diucapkan para tamu adalah Selamat Menempuh Hidup Baru. Ya, gerbang pernikahan kadang "memaksa" orang harus merubah hidupnya 360 derajat (lebaayy..hehe).
Selama tahun 2010, setelah aku berganti status menjadi istri, belum berasa menikmati "hidup baru". Kerja masih di tempat yang lama.. pulang-pergi tetap sendiri.. di rumah juga sama, tetep tidur sendiri..hehe. Baru merasa berubah pas weekend doank, pas kumpul sama suami..
Tapi...2011 akan berbeda... insya Allah.
harus mempersiapkan mental untuk menghadapi yang namanya "hidup baru".
lingkungan kerja baru, rumah baru, teman2 baru, semuaaaa baru..fiuuh.
awal-awalnya semangat, tapi ke sini-sini..kok adaaaa ajaaa godaan syetan yang terkutut yang mencoba menggoyahkan pendirian.
tiba-tiba kok merasa nyaman kerja disini..
tiba-tiba kok merasa takut kehilangan apa2 yang sudah diraih.. it's not easy dude!
padahal sudah sepakat kalau akan mencaba hidup baru di sana..bersama..huhuhu
ya sudahlah..bismillah saja.
semoga diberikan yang terbaik, di manapun itu
selamat datang tahun baru...
selamat menumpuh hidup baru ^^
Selasa, 14 Desember 2010
sakit apa ya??
udah dihentikan pemakaiannya, tapi bibir kering tak kunjung sembuh2 juga... lama kelamaan bibi jadi bengkak, sariawan, bibir pecah2...huwaaaaa...
"gara2 stress kali?" kata suamiku..
hoho..yg benar saja? se-stress apakah diriku sampe nih penyakit hampir dua bulan gak mau juga pergi???
memang akhir2 ini lagi buaaaaaaanyak banget kerjaan.. otomatis jadi banyak pikiran.. tapi badan kok gak kurus2 juga ya?? (lho?? *ngarepdotcom*
kalau benar karena stress, gak bisa diobatin donk? sampe semua kerjaan ini selesai semuanya.. kapan kah itu??
usaha untuk berobat udah..
dari dokter umum, which is kakak sendiri..hehe..
lalu dokter gigi, which is suami sendiri...hehe lagi..
sampe dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis kulit... fiuuuh..
dan sampe skaraaaaang.. masalah tetap sama.. bibir kering!! bahkan kadang sampe berdarah tiba2 huhuhu.. *what happen with me??*
kini..penyakit lain mulai mengikuti..
di badan timbul bentol2 merah kayak jerawat, tapi di daerah yg tak wajar (tangan, kaki, perut...hadeuuuh)
dan tambahan satu lagi... mata merah sebelah.. gak berasa apa2 (sakit or gatal2) atau keluar cairan apa gitu (tanda sakit mata).. dikira iritasi biasa.. ternyata dua hari gak hilang juga.. oh my God...
bener2 deh ni..
sepertinya tuh kartu asuransi pingin dipake dulu sebelum aku lepas
*curcol menjelang makan siang
Sabtu, 30 Oktober 2010
Curhat part.1
huuuh, kenapa lirik lagu itu terus berputar dikepalaku.. padahal kan harusnya ngerjain tugas-tugas kantor yang setumpuk atau belajar untuk mengajar 2 minggu lagi.... -___-"
mungkin karena aku sedang dihimpit oleh kerjaan2 ... jadi stress, pingin ada seseorang yang diajak bercerita, tempat bermanja, melepaskan segala penat ini
Sudah dua pekan ini tiap sabtu lembur terus di kantor. Harusnya aku bisa ke bandung, menemani suami yg lagi sibuk mempersiapkan ujiannya. Tapiiii... maafkan aku ya sayaaang.. aku juga tak bisa beranjak dari ibu kota. Bulan depan (alias mulai besok) akan sangat sangat sangat padat. Tiap minggu sudah ada jadwal training. Semua agenda seolah berkejar-kejaran. Lagi mengerjakan yang satu, yang lain lagi harus segera diselesaikan...huhuhuhu.
Di satu sisi sih enaaaak.. banyak proyek artinya pundi-pundi juga akan terisi dengan lancar...hohoho
Tapi tenaaaaaang... 2 bulan lagi insya Allah.. anggap saja sedang kerja keras untuk menabung buat liburan yang panjang. Yaa.. sepertinya aku butuh liburan. Pokoke... setelah semua ini selesai, aku harus berlibur... having fun... refreshing..or whatever it is... No work, no deadline, no client... but it means no money duunks???..hahaha *teuteuuup*
Hayoo.. SEMANGAAAAT...!!!
kau di sana aku di sini..
satu rasa dalam hati...
Selasa, 12 Oktober 2010
Senin, 04 Oktober 2010
Selasa, 21 September 2010
aku yakin dia mencintaiku... dengan caranya sendiri ^^
di telpon, lebih banyak gak diangkat...
berharap ketemu di dunia maya? chatting or anything... meski bikin janji dulu...fiuuh
jadi bikin maleeesss
seringkali bikin curiga, prasangka, menduga-duga...
sayang gak sih sama aku??? *mellow mode on*
kalau lihat teman yang ditelpon sama pasangannya, bahkan sampai 3X sehari... (kayak minum obat
Inilah nasib kalau punya pacar (baca: suami) yang jauh di mata dekat di hati...
tapi kata orang sih, nikmatin aja dulu... kalau ntar sudah serumah bisa bosyen ketemu dia lagi - dia lagi (bener gak sih?)
tapi terlepas dari sifatnya yang jarang menjawab SMS dan telpon itu, aku yakin disetiap aktivitasnya di sana, dia selalu merindukan aku.. ya kaaaan??? (menghibur diri sendiri
Kadang aku ingin seperti teman2ku tadi...
tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap hari... tahu pasangannya lagi ngapain, sama siapa, dimana.... (dah kayak iklan..hehe).
kadang aku menganggap, itulah cara seseorang mencintai... selalu menunjukkan perhatian lewat "pengawasan" tadi.. selalu mau tahu keadaan kekasihnya.
Tapi setiap orang memang punya caranya sendiri untuk mencintai orang lain, salah satunya suamiku ini...
Karena cintanya, dia percaya padaku... aku mau ngapain, dimana, sama siapa... yang penting aku baik-baik saja...
Karena cintanya, dia meminta Allah selalu melindungiku... lewat doa-doa dalam sujudnya yang panjang...
Karena cintanya, dia memilihku menjadi pendamping hidupnya
Dan rasa cinta itu harus terus dipupuk dengan kasih sayang dan kepercayaan....
I Love U, Cinta...
Minggu, 19 September 2010
Senin, 06 September 2010
Mudik Lebaran
Insya Allah tahun ini aku akan kembali menjalani tradisi mudik lebaran (pulang kampung di hari lebaran).. Terakhir kali aku mudik adalah 3 tahun lalu. Sejak kakak kedua menikah dan melanjutkan pendidikan ke spesialis, ia jadi tak bisa pulang. Belum lagi kakak pertama yang anaknya masih kecil-kecil... repot kalo jalan jauh. Jadi, tinggal akulah satu2 nya yang masih available untuk mudik. Alhasil, selalu papa mama lah yang "mudik" ke Jakarta (dasar anak tak berbakti...hehe).Selain karena alasan-alasan itu, kalau ortu yang ke Jakarta jadinya lebih hemat ongkos tho.. ?? nge-lawan arus lagi, jadi tidak perlu berdesak-desakan..
Tiga tahun lebaran ke Jakarta. Tak banyak saudara yang bisa kami kunjungi karena sebagian besar juga pada mudik. Akhirnya pilihan pun jatuh ke tempat hiburan dan mal-mal di sini. Hmm... ternyataaaa tempat hiburan pas hari Lebaran ruameeee bangeeet... kirain orang jakarte pada mudik semua, soalnya jalana sepiiii... huhuhu.
Tapi tahun ini, akan lain cerita. Untungnya aku dan suami punya tujuan mudik yang sama, Palembang. Rencana semula ortu tetap akan ke Jakarta, berhubung kakak kedua belum lulus juga, jadi tidak bisa pulang lama-lama. Dan aku, tetap harus mudik karena menemani suami yang mau berlebaran di Palembang. Huhuhuhu.... pisah sama ortu deh. Beginilah konsekuensi kalau jadi istri, tidak bisa "nempel" terus sama ortu..
Tiba-tiba rencana berubah. Ortuku berubah pikiran, mau lebaran di Palembang saja katanya. Soalnya keluarga di Jakarta juga pada mudik. Dan Alhamdulillah, ternyata kakak keduaku bisa libur 3 hari pas di hari lebaran... Yo wes, jadi juga mudik rame2 lebaran ini, insya Allah..
Bagaimana ya kira-kira pengalaman lebaran tahun ini???
mengingat inilah lebaran pertamaku dengan status sebagai seorang istri
we'll see....
Kamis, 02 September 2010
Aku bisaa!! Aku pasti bisaa..!!
"bu, tolong pembagian kelompok matakuliah ProPeSI ditentukan oleh dosen saja. Takutnya ada ketidakmerataan programmer.."
membaca pesan itu membuatku terkenang kembali masa muda pas kuliah S1 dulu... kayak sekarang dah tua aja..hehe
*******
Semester pertama kami mendapatkan mata kuliah Dasar-Dasar Pemrograman yang isinya tentang bahasa Java.. Boro-boro mau bikin program, lha wong pas sekolah taunya cuma word dan excel...hehe. Untungnya, aku mendapatkan kelas yang student-based learning dimana dosen hanya menyediakan pemicu tiap pekannya dan mahasiswa diminta belajar mandiri. Sebelum perkuliahan berjalan, sang dosen mengadakan semacam pre-test untuk melihat siapa saja yang sudah "melek Java" atau paling tidak pernah membuat program. (baru tahu aku klo sekolah di Jakarta ada yang sudah mengenalkan bahasa pemrograman... maklum sekolah di kampung sih..hahaha). Nah, dari hasil tersebut kami dibagi2 per kelompok dan setiap kelompok ada minimal satu orang yang (boleh dibilang) "jago ngoding".
Waktu berlalu, perkembangan mahasiswa pun beragam. Ada yang tadinya gak bisa ngoding, jadi "jago ngoding".. tapiiii seingatku, banyak pula yang tetap gak bisa ngoding sampai akhir kuliah tersebut. Karena apa??? "ah, tugasku sudah selesai dengan sempurna oleh Si A" yaaa, karena mengandalkan teman yang "jago ngoding" tadi. Padahal, harapan dosennya dengan belajar kelompok itu, yg si Jagoan tadi bisa mengajarkan teman-temannya. hmm... termasuk aku kali yaa yg mengandalkan si Jagoan...hehe.
***********
Cerita kedua.
Apesnya aku...(atau beruntung ya??) adalah tidak pernah mendapatkan teman kelompok yang jagooooo banget ngoding. Tetap saja harus turun tangan meskipun porsi ngoding-nya gak banyak. Yang lebih heboh adalah ketika kuliah Sistem Penunjang Keputusan. Saat itu tugas akhirnya adalah membuat suatu aplikasi Sistem Penunjang Keputusan. Dan lagi-lagi, seolah stok lelaki (yg biasany jago ngoding) tiba-tiba ludeees.. padahal perbandingan cewek-cowoknya 1:3...uuu yeaaah. Jadilah aku dan keempat temanku yang lain harus berjuang sepenuh jiwa raga untuk mengerjakan tugas itu.. Girls Power
Sampai diujung pengumpulan tugas, aplikasi kami belum beres...oh noooo... Malam-malam harus rela nginep di kampus dan gak tidur demi mengerjakan tugas itu. Tapiii walaupun kami tidak jago-jago amat, alhamdulillah tugas kami akhirnya selesai. Tentunya dibantu oleh teman2 yg lain, meskipun tidak sekelompok. Trims ya temaaaan
Hasil tugas kami memang tidak terlalu bagus, Sederhana (a.k.a seadanya
**********
Ingatlah, jika kita tidak bisa, jangan menyerah.. Karena keadaan akan membuat kita menjadi BISA!!! Justru ketika ada orang lain yang BISA dan dapat kita andalkan, kadang malah membuat kita menjadi TIDAK BISA!!
Selasa, 10 Agustus 2010
Jelang Ramadhan
beberapa jam sebelum Ramadhan, insya Allah..
waktu ashar telah berlalu, dan sebentar lagi gerbang Ramadhan kan terbuka
seharusnya terbuka pula pintu hati untuk saling memaafkan
agar dapat menjalani ibadah dengan hati lapang.
beberapa jam sebelum Ramadhan, insya Allah..
ku pintakan maaf dari sahabat semua
semoga kelak amal ibadahku tak tersia
karena terhalang oleh kesalahan yang belum termaafkan
beberapa jam sebelum Ramadhan, insya Allah..
meminta maaf terasa lebih ringan..
namun membukakan pintu maaf kadang terasa berat
di lisan terucap "aku maafkan", tapi di hati??
semoga Allah mengampuni segala dosa..
dan menerima segala amal kebaikan yang kita lakukan...
amiin..
Senin, 26 Juli 2010
Looking for a job
Sebenarnya aku termasuk orang yang terlalu "milih" dalam hal pekerjaan. Boleh dibilang "sok idealis". Harus sesuai dengan background pendidikanku, di organisasi yang bergengsi, posisi gak terlalu "bawah".. makanya aku jarang sekali submit CV sana-sini atau ikutan jejaring tenaga kerja di Internet. Kenapa?
Mungkin saja karna aku kurang pede atau aku yang terlalu idealis. Pekerjaan A... ahhh, aku gak bisa deh kayaknya. Pekerjaan B... terlalu rendah untuk aku yang sudah S2 *belaguuu...
Sedari lulus S1 hingga detik ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali aku melamar pekerjaan. Mungkin tidak segencar teman-teman yang lain yang apply sana-sini. Sebelum lulus pun alhamdulillah aku sudah diterima bekerja di sebuah Fakultas di UI, meskipun masih menjadi staff biasa, bukan dosen. Lalu, aku melanjutkan studi ke S2 dengan harapan jika nanti aku melamar pekerjaan aku bisa langsung masuk ke jenjang middle management.. gak jadi kuli lagi gitchu...hehe. Sambil S2, aku bekerja jadi junior consultant di almamaterku, yang manaaaa.. masih sesuai dengan background pendidikanku, baik S1 dan S2. Lulus S2, aku coba-coba apply untuk menjadi dosen di almamaterku. eeeeh, ternyata diterima...hohoho. (Padahal aku juga apply ke sebuah BUMN besar dan berharap bisa lulus disitu aja
Dalam menjadi pekerjaan, aku gak mau asal-asalan. Asal keterima, asal bekerja, asal punya gaji..hihihi. Maunya tuh, yang tetap memperhitungkan statusku yang lulusan S2. Sudah capek2 kuliah, tetap aja pas keterima kerja yang dilihat cuma S1-nya doank...rugiiiii. Karena terlalu selektif itulah makanya sampe skarang blom apply ke manapun.
DOSEN
ya..ya..ya... sekilas sepertinya itu pekerjaan yang cocok untukku. Lulusan S2, pasti punya nilai lebih kalau jadi dosen. Apalagi dengan status sebagai istri dan (insha Allah) ibu, jadi dosen katanya bisa lebih fleksibel dalam mengatur waktu buat keluarga. Tapiiii... kok rasanya beuraaaaat banget buat jadi dosen. Gak pede euy ama kapasitas diri
lierr..aaaah...
lihat nanti ajalah mau kerja dimana... ada yg punya lowongan??
Senin, 12 Juli 2010
Tentang sebuah mimpi..
Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia...
Ya..ya..ya.. berawal dari mimpi untuk bisa meraih jenjang akademik yang lebih tinggi dari papaku. Setidaknya itulah yang sering beliau tanamkan kepada anak-anaknya. "Papa aja bisa S2, masa anak2nya kalah..?" Selain karena "suruhan" papa itu, aku juga termotivasi untuk menjadi Doktor karena aku tidak bisa menjadi Dokter seperti keluarga ku yang lain... mmmm... gak juga dink
Dulu, saat aku menjalani studi S2, aku berencana untuk menikah sambil S2. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Skenario yang dibuat untukku adalah setelah aku lulus dari S2. Namun, beberapa bulan setelah lulus S2 pun aku tak kunjung mendapati seorang lelaki yang berani melamarku. Maka terbersitlah dalam benakku, "pokoknya...ada atau tiada pendamping hidup di umur 25, aku akan mengejar mimpiki untuk sekolah lagi" Meskipun mamaku agak worry... nanti tambah gak ada yang berani untuk mempersuntingku..hehe.
Dan ternyata, Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengan jodohku sebelum umur 25. Mungkin ini jawaban dari doa mama yang takut anaknya "nekat" ambil S3..hehe. Setelah menikah, entah mengapa mimpi itu perlahan-lahan sepertinya mulai aku lupakan. Meskipun suamiku tidak pernah mengekangku untuk sekolah lagi, bahkan kami punya cita-cita yang sama untuk S3 ke luar negeri (kapan ya say??
huuff... mimpi itu kadang datang dan pergi..
mungkin emang harus meluruskan niat lagi..
mengejar mimpi bukan hanya sekedar gengsi..
tapi menuntut ilmu untuk derajat yang lebih tinggi di sisi Illahi..
Senin, 05 Juli 2010
Total Cost of Ownership
Nah, di sinilah program reality show ini memberikan "bantuan" kepada mereka. Bedanya, kalau Bedah Rumah, rumah si target "hanya" diperbaiki sehingga layak huni, tapi tetap di lokasi yang sama. Sedangkan, untuk acara Rumah Hadiah, tak tanggung-tanggung, si target di belikan rumah baru di lokasi yang baru pula tentunya. Dulu pas nonton, kalau tidak salah diberikan rumah RSS (entah tipe berapa dan S-nya berapa :P) tapi menurutku jauuuuh lebih bagus (tentunya) dari rumahnya yang lama. Satu keluarga itu kemudian diboyong oleh tim acara tersebut untuk menempati rumah barunya. Kalau tidak salah (lagi), si kepala keluarga "hanya" seorang pemulung di suatu TPA di Jakarta. Wooow, mimpi apa ya tuh bapak bisa dapet rumah sebagus itu sedangkan penghasilannya yang buat makan anak-istri aja kadang kurang.
Lalu kemudian aku berpikir.... Betah gak ya keluarga itu disana? apakah tim acara itu (jika beneran ngasih rumah tersebut =P) memantau kondisi keluarga tersebut pasca kepindahan mereka di lingkungan baru? Coba pikir, misalnya pendapatan tuh bapak hanya cukup buat makan, trus bagaimana dengan biaya untuk bayar listrik, PDAM, PBB, dan biaya-biaya retribusi lainnya yang muncul saat kita hidup bermasyarakat di perumahan seperti itu (uang keamanan, uang sampah, iuran RT, de el el). Apalagi TDL tiap tahun naik. Kalau di rumahnya yang dulu, mungkin listriknya pakai yang daya kecil sehingga bisa digolongkan "masyarakat miskin". Nah, kalau tempat tinggal yang baru? gimana kalau ternyata masuk ke golongan "menengah"? Kan kasihan tuh bapak, keringanan gak dapet padahal sebenarnya orang yang gak mampu juga, tapi karena tempat tinggal yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya... apa mau di kata??
Belum lagi masalah lokasi kerja. Misalnya dulu saat harus berangkat kerja atau jarak dengan sekolah anak bisa ditempuh dengan jalan kaki, bagaimana dengan kondisi yang baru? Syukur-syukur kalau emang tidak terlalu jauh. Nah kalau jauh, kan nambah lagi biaya bulanan buat ongkos. Adalagi masalah sosial, "kesetaraan" dengan tetangga. Kalau gap yang ada terlalu jauh, bisa jadi tekanan batin juga kan buat keluarga tersebut. Fiuuh...
Kembali ke judul postingan ini, Total Cost of Ownership. Mungkin keluarga tersebut tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk pembelian rumah. Tapi, bagaimana dengan biaya pemeliharaan setelahnya? termasuk hal-hal yang saya jabarkan di atas... Kalau misalnya biaya kepemilikan (baca: total biaya yang harus dikeluarkan karena memiliki) rumah tersebut ternyata jauh lebih mahal dan memberatkan mereka, mungkin tinggal di tempat semula adalah "pilihan" yang lebih baik. CMIIW
~sebuah pemikiran lama yang baru sempat tertuang sekarang
Kamis, 01 Juli 2010
6 bulan lagi...
di sini jadi tak asik lagi..
mereka mencari mimpi di tempat yang baru..
mungkin karena di sini sudah terlalu jemu..
tak ada lagi idealisme..
yang tersisa hanya pragmatisme..
inilah dunia, kawan!
tak ada yang setia, hanya sebuah kepentingan
tak ada yang abadi kecuali perubahan
dan kita harus berubah, jika dirasa sudah mulai bosan
agar hidup terus bergerak untuk mencapai impian
agar tak ada yang menjadi pelampiasan
enam bulan lagi, insya Allah...
aku dan kau.. bersama kita mengejar mimpi bersama
mungkin aku memang tak harus di sini
karena kau pun ada di sana..
dan di sini seolah sudah tak asik lagi..
~disela-sela menanti waktu ngajar
Senin, 28 Juni 2010
penantian itu..
jadi iri melihat teman-teman yang mulai mempersiapkan bekal untuk menjadi ibu baru..
ada yang tanya-tanya referensi bacaan sampai yang posting link bagus buat dibaca seputar dunia ibu dan anak..
suatu hari... ya suatu hari nanti insya Allah aku pun akan seperti mereka..
penantianku baru 4 purnama.. masih terbilang sebentar bukan? :)
meskipun ada yang belum sempat melewati satu purnama pun..
sungguh Allah Maha Tahu..
diberikannya rizki kepada siapa saja dan kapan saja menurut perhitungan-Nya yang maha teliti..
adakah hakku untuk menggugatnya? tidak..
karena sesungguhnya apa yang baik menurutku belum tentu baik bagiku..
dengan diberikannya aku kekasih seperti saat ini saja sudah sangat membuatku bersyukur..
bahagia tak terkira..
terima kasih Allah..
penantian itu tak akan membuatku jemu untuk terus bermunajat pada-Mu
sepertu dulu aku menghiasi setiap doaku untuk satu penantian yang lalu.
Kamis, 17 Juni 2010
aku.. rindu...
berkumpul di selasar masjid di tepi danau
dibatasi oleh selembar spanduk yang hanya menutup setengah badan jika berdiri
berbicara dan mencoba mengenali siapa yang sedang berbicara dibalik hijab
aku rindu masa itu...
berkumpul bersama saudara seiman, satu tujuan..
membahas ini dan itu...
semua dilakukan atas nama dakwah!
aku rindu masa itu
meskipun tak lagi duduk bersila dan dibatasi selembar kain
melainkan duduk di meja bundar..
tapi tetap membahas hal yang sama..
(katanya) lagi-lagi atas nama dakwah..
sungguh aku merindukan masa itu..
kapan kita berkumpul lagi kawan...?
membahas tugas kita.. amanah kita..
yang entah sejak kapan mulai terbengkalai...tertinggal.. terlupakan
ahh, tidaaak
tidak semua melupakan..
hanya sebagian..
mungkin sebagian besar.. termasuk diriku.
Jumat, 14 Mei 2010
Belajar tentang Cinta
Dan di sini.. aku ingin menuliskan sepotong makna CINTA menurut pandanganku dari apa yang telah aku rasakan setelah menikah dan melihat pada lingkungan sekitarku... enjoy it ^__^
Dulu, aku pernah berdiskusi tentang makna CINTA dengan seorang sahabat.. Menurutnya, CINTA itu ibarat pelangi.. ada beraneka ragam tergantung pada siapa CINTA itu dialamatkan. Ada CINTA pada Allah dan Rasul-Nya, CINTA kepada orang tua, CINTA kepada lawan jenis, CINTA kepada saudara dan masih banyak CINTA yang lainnya. Seperti layaknya pelangi, setiap warna CINTA itupun akan berbeda, hmm.. mungkin bisa diartikan sebagai sensasi rasa CINTA itu tidak akan sama. Karna itu, seharusnya kita tidak memilih salah satu dari sekian banyak CINTA tadi karena semuanya bisa berjalan seiring seperti baris-baris warna dalam pelangi (tapi kalau CINTA pada kekasih sebaiknya satu aja ya... :p )
Lalu aku pun bertanya padanya, jika CINTA seperti pelangi, maka apakah kesamaan yang dimiliki oleh berbagai rasa CINTA itu? Jika diibaratkan pelangi, maka kesamaannya adalah biasan cahaya matahari oleh titik-titik air di angkasa (eh, bener gak ya? :p). Aku lupa saat itu dia menjawab apa.. tapi yang aku ingat adalah jawabanku sendiri...
Menurutku.. kesamaan dari berbagai CINTA itu adalah PENGORBANAN. Seseorang tidak berhak untuk mengatakan bahwa ia mencintai sesuatu/seseorang jika ia belum rela berkorban demi sesuatu/seseorang tersebut. Ini kusarikan dari materi "Indahnya Iman" di pengajian pekananku =) Saat itu sahabatku sepakat dengan apa yang aku sampaikan... (tapi sebenarnya gak butuh kesepakatan sih...hehe)
Hari berganti hari... dan kini aku telah menikah (alhamdulillah) dan aku semakin banyak belajar tentang CINTA. Apa yang aku pahami tentang CINTA adalah MEMBERI...
Yaa, memberi tanpa ada rasa mengharap diberi kembali atau bahkan sekedar ucapan terima kasih. Tak ada hitung-hitungan Give and Take... Tak perduli itu semua... Yang ada hanya keinginan untuk memberi dan terus memberi...
CINTA orang tua kepada anaknya
Ibu selalu memberi apapun kebutuhan anaknya sejak dalam kandungan.. Tak suka susu, harus minum susu demi janin dalam rahimnya. Selalu makan-makanan yang bergizi meski mungkin bukan makanan yang ia sukai. Setelah sang anak lahir hingga menjadi dewasa, tak terhitung berapa banyak ibu telah memberikan perhatian, kasih sayang, materi, bahkan keringat dan air mata. Pun ketika si anak telah menikah, Ibu tetap terus memberikan segalanya buat cucunya, anak dari anaknya.. Adakah ibu menghitung-hitung segala apa yang telah ia berikan??? Jika ya, mungkin si ibu tidak tulus mencintai buah hatinya.. (oops.. :p)
CINTA selalu memberikan MAAF
Ini hal baru yang aku pelajari tentang CINTA. Tahukah kasus seorang artis yang "tidak diakui" oleh suaminya saat dirinya tengah mengandung buah hatinya? saat itu sang artis bercucuran air mata di depan kamera, disaksikan jutaan mata.. Mungkin sekian juta orang tersebut turut larut dalam kesedihannya dan (mungkin) mengutuk sang suami.. Tapi apa yang terjadi saat si artis melahirkan? Si pria tersebut datang dan mendampinginya selama proses persalinan.. Bukannya marah-marah atau mengusir lelaki tersebut, tapi si artis seolah-olah MEMAAFKAN apa yang telah dilakukan sebelumnya. Mungkin sebagai orang luar yang melihat peristiwa tersebut akan berkomentar... "Kok mau-maunya sih?? Kalau aku jadi dia, sudah ku... bla..bla..bla... (pokoknya tindakan yang jelek-jelek deh..hehe)"
Tapi apa yang terjadi jika kita berada di posisi sang artis yang mencintai lelaki tersebut?? Mungkin akan sama, mungkin juga tidak... Namun, dari beberapa peristiwa serupa yang aku dapati dari orang-orang di sekitarku... saat hati dilukai oleh pasangan yang sangat dicintai.. maka pintu maaf akan selalu terbuka untuknya... Entah seberapa pedih atau mungkin sudah berulang kali dilukai, tapi tetap saja dimaafkan...
Mungkinkah itu yang dinamakan CINTA SEJATI??
Entahlah.. tapi itulah pelajaran yang aku dapatkan saat ini tentang CINTA..
Mulai saat ini, aku akan belajar untuk memberi dan terus memberi... tanpa berpikir apakah aku mendapatkan balasannya... karena aku ingin mencintaimu dengan sejatinya CINTA yang aku pahami...
I love you ^__^
Selasa, 13 April 2010
jadi ibu rumah tangga, mau??
Beberapa waktu lalu aku sempat bilang pada suamiku.. "aku mau jadi ibu rumah tangga aja ya.." dan suamiku hanya mengiyakan. Padahal saat itu sebenarnya aku masih bingung untuk memilih jalan karirku jika sudah pindah ke Bandung nanti. Memang kami berencana untuk pindah dari Jakarta yang sudah sumpek ini, memulai kehidupan baru biar gak long-distance lagi..hehe. Tapi beberapa teman yang mendengar wacana ini sebagian mengatakan... "sayang pit, udah bagus keterima dosen di UI" yeaaah...
Memang, karir sebagai dosen sepertinya pilihan yang cukup baik bagi seorang wanita yang sudah berkeluarga. Jam kerja yang fleksibel. Klo ada keperluan mendadak, kelas bisa di-reschedule atau kasih tugas ke mahasiswanya. Lingkungan yang kondusif dan bisa bawa anak ke kantor. Klo masuk kelas, anaknya bisa titip di ruangan, ya kan?? hehe.
Tapiii sepertinya klo aku bertahan di sini malah jadi desperate lecturer...hohoho. ahh, yang ini gak usah dibahas di sini lah.. soalnya subjektif sekali
Lalu bagaimana kalau jadi ibu rumah tangga saja? apalagi kalau nanti sudah punya anak.. bakalan sibuk deh ngurusin anak. ditambah lagi jauh dari orang tua, jadi gak bisa nitip anak klo kerja..hehe. Tapi setelah melihat seorang teman yang sudah punya 2 anak, dan "mengeluh" dengan statusnya sebagai full-time mother, sepertinya di rumah seharian itu membosankan dan cukup menyiksa.. (lebay gak sih??) Akhirnya kemarin sempat berbincang-bincang dengan seorang wanita yang pernah punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga dan kembali menjadi ibu pekerja.. (makasih ya mba shinta, cerita yang amat berharga )
Mengapa wanita ingin bekerja?? Kalau alasan utamanya adalah ekonomi, yaah itu sih gak perlu dibahas lagi. Meskipun mencari nafkah adalah tugas suami, tapi klo emang tidak mencukupi..apalagi jaman sekarang yang apa2 serba mahal, istri ikut mencari uang untuk kebutuhan rumah tangga bukan suatu hal yang aneh. Nah, klo pendapatan suami sudah mencukupi, apakah si istri masih perlu bekerja?? kesimpulan dari perbincangan kemarin jawabannya adalah YA (apalagi untuk wanita2 yang terbiasa aktif semasa lajangnya dulu). Kenapa? Kadang, wanita bekerja itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mengekspresikan dirinya, cari kesibukan lain diluar rutinitas mengurus anak dan rumah, mencari kepuasan sosial, dsb. Katanyaaa (maklum blom berpengalaman jadi housewife..hehe) klo dah suntuk dengan rutinitas rumah, maka si ibu ini bisa tidak optimal dalam mengurus anaknya, melayani suaminya.. karena ada kebutuhan emosional yang tidak tersalurkan. Ujung2nya jadi beteee aja di rumah.
Lalu, gimana solusinya?? Yaa seorang wanita harus bisa memilih-milih pekerjaan yang bisa memberikan kepuasan padanya, tapi tetap bisa memprioritaskan keluarganya. Misalnya, jadi tenaga freelance.. bisa kerja dari rumah, tapi tetap ada pencapaian tersendiri, atau berwirausaha, ikut seminar2 dan kursus2., dan sebagainya. Pokoknya ada kesibukan lain aja. Tapi sebenarnya tergantung wanitanya juga sih. Kalo manajemen waktunya bagus, kerja kantoran yang punya waktu kerja 8 jam sehari, ditambah lembur-lembur dsb, sepertinya juga bukan pilihan yang buruk. Apalagi lingkungan disekitarku, mayoritas adalah wanita pekerja. Dan sepertinya mereka sukses2 aja tuh mengurus anak2 dan rumah tangganya...
Nah, pas diskusi ini akhirnya aku jadi mikir juga.. klo nanti aku "terpaksa" harus stop bekerja di kantor, dan sudah punya baby... enaknya ngapain ya?? Mau wirausaha, belum punya nyali. Mau jadi freelance, punya bakat apa ya?? Apa jadi penulis aja seperti suamiku?? emang bisa???hahaha....huu..bingung.
Pilihan yang sepertinya berpeluang besar yaa jadi dosen... secara modal sudah ada. Pendidikan dan pengalaman mengajar sudah dikantongi. Aman laaah.. Tapi, yakin mau jadi dosen??? padahal tiap klo mau masuk kelas yang ada bawaannya stress...fiuuuh.
Kamis, 08 April 2010
Long-distance relationship
Beberapa hari sebelum pernikahanku, aku sempat chatting dengan seorang teman nun jauh di sana... Dalam pembicaraan itu, aku sedikit menyindir temanku ini..
"kamu kapan rencananya?" tanyaku
"blom ketemu akhwat yg cocok.." kira-kira jawabnya seperti itu (oya, temanku ini seorang lelaki)
"emang carinya yg seperti apa?" tanyaku lagi
"yg bisa diajak tinggal di sini dan dibawa kalau harus pindah ke kota yang lain" sambungnya. Temanku ini memang bekerja di salah satu perusahaan skal nasional dimana ia memiliki kemungkinan untuk ditempatkan di daerah mana saja alias dimutasi. So, maunya dia..si istri nanti bisa ikut dia kemana pun nantinya ia ditempatkan. Hmmm..
Lalu aku pun menyambung pembicaraan..
"yaah, long-distance beberapa saat dulu gak apa kali... aku nanti juga gitu kok rencananya. aku masih di jakarta dan dia di bandung" jawabku ringan kala itu.
"klo bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance??" sangkalnya..
Saat itu, sebelum menikah, aku tidak terlalu memikirkan mengenai hal ini. Ku pikir awalnya karena kami (aku dan calon suamiku saat itu) memang tidak biasa sama-sama (seperti halnya orang pacaran) dan kalau nanti awal2 menikah juga tidak sama-sama tiap hari, yaah.. gak kan ngaruh banyak lah... sudah biasa toh??
kini, aku dan suamiku menjalani yang namanya Long-distance relationship. Tentu saja ada enak dan gak enaknya (harus dilihat dari dua sisi toh??? biar tetap bersyukur..hehe)
Enaknya apa? Ada yang namanya masa transisi antara sebelum dan sesudah menikah. Kalau orang normalnya, habis nikah tinggal bersama, everyday always together, perubahan itu akan benar-benar terasa. Apalagi untuk orang sepertiku yang sudah bertahun-tahun sebelumnya hidup mandiri di perantauan...hehe. Kalau long-distance, masih berasa single ajah walaupun sebenarnya udah double Dan masa transisi ini dijadikan masa untuk diri, hati, pikiran, jiwa dan raga (halaaaah...) beradaptasi dengan status baru, kehidupan yang baru. Long-distance juga membuat kami untuk saling berkangen-kangen ria... weekend menjadi waktu yang dinantikan karna itulah saatnya untuk kami bertemu... jadi merasakan namanya nge-date di malam minggu...xixixixi.
Nah, masalah kangen ini juga bisa dibawa gak enak. Kenapa?? sumpaaaah, rasanya gak enaaaak banget. I never have feeling like this before. Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik.. kepikiran si dia.. sedang apa, sama siapa, di mana.. (kok jadi kayak iklan??? hehehe) Yang ada bawaannya pingin nelpon dan sms-an mulu. Resah, gelisah, gundah, gulana... (lebay deh nih kayaknya ) Pokoknya, missing someone itu gak enak..titik. Apalagi untuk orang yang baru poling in loph
...hehehe.
Gak enak lainnya adalah... saat butuh PASANGAN ada di sisi kita, misalnya ada acara kumpul2 dengan teman-teman atau kerabat, eh..tetap aja jadi jomblo...huhuhu.
Tapiiiii... perasaan itu harus terus ditata... agar tidak jadi curigaan, buruk sangka, atawa cemburu berlebihan terhadap pasangan... Hmmm...mungkin ini kali ya tidak sidikit pasangan (yg blom nikah alisa pacaran) saat harus long-distance malah jadi bubar jalan... Jangan sampe juga karena terus-terusan ingat si dia kerjaan jadi terbengkalai. Harus tetap semangat dan produktif dalam aktivitas sehari-hari..ya kan??
Dan akhirnya sekarang aku setuju jangan pendapat temanku itu.. kalau bisa tidak long-distance, kenapa harus long-distance..???
Rabu, 31 Maret 2010
Sandal Cinta
disini aku ingin menuliskan tetang kado ultah pertama dari suamiku... mungkin aku bukan pujangga seperti dirinya yang dapat merangkai untaian kata menjadi indah untuk dibaca... mari dimulai..
27 Maret 2010, adalah ulang tahun pertamaku dengan status sebagai istri. Sebulan sebelumnya, 27 Februari 2010, seorang lelaki telah halal dan resmi secara negara menjadi suamiku (bukan nikah siri lho..hihihi). Beberapa hari menjelang miladku itu, entah kenapa aku mendadak jadi "manja" (padahal sehari-harinya juga kok :p). Aku sms suamiku untuk memintanya pulang ke jakarta pada hari Jumatnya, bukan untuk menghabiskan waktu hingga pukul 12 malam, tapi aku ingin ketika membuka mataku di umur yang telah mencapai seperempat abad itu, suamiku adalah orang pertama yang aku lihat.... (gak penting banget sih :p). Tapi, karena ada kebutuhan mendesak dan penting lainnya, suamiku tidak bisa memenuhi keinginanku itu.
Dua hari sebelumnya, kalo tidak salah, suamiku sempat menanyakan ukuran sepatu dan merk yang aku suka. Maklum, pasangan baru, jadi blom hafal ukuran sepatu pasangannya...hehe. Waah, ketahuan dong kadonya?? Dalam benakku, dia akan memberikan sepasang sepatu dengan hak tinggi yang memang sering kupakai saat di palembang. Lalu ku katakan padanya, "tidak usah, klo mau beliin sepatu, nanti aja. Takut aku gak nyaman makenya"
H-1 sebelum miladku, suamiku mengirim SMS dan mengatakan klo kadonya sudah dibeli. Hmmm, kira2 kado apa ya? apakah tetap sepatu seperti rencana semula? Esok pagi, di hari ultahku, tak sengaja aku membaca note di FB yang ditulis oleh suamiku dan ditujukan untukku. Oya, notesnya juga ada di sini... http://mymino.multiply.com/journal/item/3/Kado_Pertama. Setelah membaca notes itu, aku jadi makin penasaran... kado spesial apakah yang sudah disiapkan oleh suamiku ya? hmm...
Sore harinya, suamiku akhirnya tiba dari Bandung. Tak lama, ia pun memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi dengan kertas kado yang cantik. Ketika ku buka... ternyata isinya adalah sebuah sandal teplek (baca: low-heels :D). Kenapa sandal?? memoriku menarik kembali untaian kata yang ia tulis di note-nya.
"Ternyata berharganya kado pertama tadi tidak hanya terletak pada uniknya bersouvenir novel hasil karya pengantin, tidak hanya karena bertepatan dengan momen hari istimewa pernikahan, tapi karena nilai kesungguh-sungguhan untuk memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu. Kalau memang demikian sebenarnya titik sumbunya, maka kado kedua, ketiga, dan seterusnya insya Allah, akan tetap bisa berkelas jika ada kesungguh-sungguhan cinta didalamnya."
Aku jadi ingat bagaimana ketika di palembang aku mengeluh kesakitan setelah seharian jalan menggunakan sandal high-heels karena sandal teplek ku hilang setelah hari akad nikahku di rumah. Maklum, kebanyakan tamu dan sanak family yang datang dan pergi, jadi mungkin saja sandalku itu terpakai dan terbawa entah ke mana.
Ouuww.. aku jadi terharu...ternyata suamiku menganggap hal itu bukan hal yang "biasa".. itulah wujud perhatian dan cintanya padaku yang "menderita" karena tidak punya sandal teplek yang nyaman untuk dipakai jalan seharian...=D
terima kasih suamiku... terima kasih atas sandal cintanya
Selasa, 30 Maret 2010
Selasa, 23 Maret 2010
Diantar-jemput suami
Dulu, ketika masih lajang aku suka mupeng klo melihat teman kantor yang diantar-jemput ama suaminya ke kantor. Atau, sama temen kantor yang antar-jemput istrinya (maklum, di kantor mayoritas bapak2 muda...hehe). Sempat kepikirian, pingiiin kayak itu. Walaupun ke kantor aku bawa kendaraan sendiri, gak harus naik turun angkutan umum, tapi tetap ada keinginan untuk "manja" diantar-jemput ama suami tercinta.
Sekarang Alhamdulillah sudah Allah pertemukan aku dengan jodohku. Tapi, karena masih ada amanah masing-masing yang harus diselesaikan maka kami belum bisa bersatu, tinggal serumah layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Alhasil, meskipun sudah ada suami, tetap saja aku harus pulang pergi kantor dengan nyetir sendiri... tapiiii, yang tinggal serumah pun belum tentu bisa diantar jemput sama suaminya, ya kan?? misalnya karna letak kantor yang saling menjauhi, jadi kalau suaminya antar-jemput malah bikin repot. atau emang gak punya kendaraan pribadi :D
Namun, senin kemarin Allah memberikan aku kesempatan untuk merasakan apa yang pernah aku impikan.. di antar-jemput oleh suami, bahkan ditunggin selama kerja..hehehe. Senangnyaaaaa ^^. Karena kemarin ada suatu urusan di jakarta yang harus kami lakukan bersama, suami pun terpaksa membolos sehari dari aktivitas rutinnya di bandung. Tapi kasihan juga ama suamiku yang harus nunggu berjam-jam sampai waktu pulang kantor, bahkan lebih... (maaf ya sayang =D)
Tapi, kadang kala... aku juga suka kasihan sih lihat para suami yang sudah capek kerja seharian, harus jemput istri pula di tempat kerjanya yang jaraknya lumayan berjauhan. Padahal kantor suaminya lebih dekat dengan rumah. Gak bisa pulang sendiri apa ya? hehehe..
anyway, harusnya emang kegiatan antar-jemput ini bukan "tugas" suami, toh suami bukan sopir istri, tapi kalau si suami melakukannya dengan suka rela, hati bahagia.. sebagai bentuk cintanya kepada istri, bukan karena "terpaksa", semoga mendapatkan nilai pahala dalam hidup berumah tangga =)
untuk para suami.. ikhlas ya "memanjakan" istri yang bekerja =D
Sabtu, 13 Maret 2010
Wedding theme
Ketika membagi undangan 3 pekan sebelum hari H kepada teman-teman kantor, banyak yang nanya.. "Temanya biru muda ya?" Tak heran bila mereka bertanya seperti itu melihat undanganku berwarna biru muda, warna kesukaanku. Tapi aku tidak langsung mengiyakannya kalau kubayangkan lagi warna baju adat untuk resepsi, warna pelaminan, seragam orang tua, saudara, tante-tante, dll. Awalnya memang aku menginginkan tema pernikahanku adalah biru muda, seperti kakak keduaku yang temanya adalah PINK, warna favoritnya. Tapiiiiiiii.... apa mau dikata.. pas datang ke sanggar untuk menyewa gaun pengantin dan perangkat2 lainnya.... ada sih warna BIRU MUDA seperti yang kumau..tapiiiii ukurannya tidak pas denganku (tangannya sedikit gantung) dan warnanya sudah pudar karna mungkin sudah sering dipakai orang. Akhirnya, mengikuti kata mama, dipilihlah warna MERAH MARUN. oh yeaaaah.. hancur sudah wedding theme kuu. Undangan sudah terlanjur dipesan warna biru muda...huhuhu.
Tapi entah kenapa, pas aku membeli seragam orang tua, aku tidak menyesuaikannya dengan warna yang ku mau..BIRU, malah beli MERAH MARUN seperti yang dipesan mama. Alasannya.. "mama belum punya kebaya merah marun"
Pas beli seragam sodara, malah milih warna biru.... setelah mengikuti egoku yang tetep mau ada nuansa biru..hehe
Pas beli seragam panitia, eeeeh, malah warna orange...ho..ho..ho...
Mendekati hari H, makin terlihat wedding theme-nya... PELANGI... :D
Pelaminan di rumah yang tadinya dipesan ada nuansa adat Palembang, malah diganti sepihak oleh pihak penyewa (katanya sih dah konfirm ke mama...), ditambahin bunga2 ala Cap Go Meh...hahaha.. mungkin dipikirnya karena bertepatan dengan momen itu kali ya..
yo wes lah..pasrah aja. Walaupun awal2 sempet dongkol juga dan ngedumel ama mama (ooopsss :D) tapi ya udahlah mau diapain lagi?
Ketika calon suamiku (saat itu) mengantarkan sovenir ke rumah, tile pembungkusnya ternyata berwarna MERAH MARUN..padahal sebelumnya sudah dipesan warna biru tua aja karena kartu ucapan terima kasihnya ikut warna undangan..BIRU. Ternyataaaaa... entah kesalahan ada di siapa, tapi katanya kesepakatan terakhir adalah MARUN. o la la la....
Meskipun di rumah papa sudah usahakan semua bernuansa biru... dari tenda, meja catering, sampe gorden baru... mengikuti warna baju pas akad. Tapi pas resepsi di hotel... makin terkejut lagi dan speechless. Pelaminan yang tadi kubayangkan pake adat palembang, lagi2 diganti sama pihak hotel dengan MODERN MINIMALIS bernuansa HIJAU...oh yeaaaaah... aku dan suami hanya pasrah memandanginya... dalam hati hanya berdoa.. SEMOGA BAROKAH aja deh. Disini baru merasakan, untung juga sovenirnya merah marun, jadi sama dengan gaun pengantin yang aku pakai... :)
yah, itulah sekelumit kenangan soal pernikahanku.. meskipun biasanya orang-orang menentukan semua pernak-pernik itu dalam satu warna yang sama, tapi kami melakukan hal yang LUAR BIASA... dengan wedding theme kami adalah PELANGI ^__^
Rabu, 10 Maret 2010
Jumat, 19 Februari 2010
"Gimana rasanya?"
"Gimana rasanya mo nikah? deg-degan ya...??"
Awalnya aku hanya menjawab.."Biasa aja tuh, malah lebih deg-degan klo disuruh ngajar di kelas...hehe" Mungkin nanti klo sudah pulang ke palembang, pas tahu apa-apa saja persiapan yang belum beres...nah, itu yang bisa bikin deg-degan. Maklum, semuanya dipersiapkan sendiri oleh orang tua plus kerabat (gak pake WO-WO an).
Tapi, hari demi hari ku lalui.. ku tanya pada diri sendiri, pada hati nurani... "deg-degan gak sih??"
karena sering dirasa-rasa akhirnya benar-benar terasa deg-degannya...ha..ha..ha...
Bukan cuma deg-degan karena takut ada yang kurang untuk persiapan acara, tapi juga menjelang pernikahan itu sendiri... mitsaqon gholizon, saat yang dulu haram menjadi halal, bahkan dapet pahala.
Sudah siapkah aku? (biasanyakan deg-degan itu karena belum siap)
Siapkah aku untuk hidup bersama seseorang yang sebelumnya tidak ada disisiku..
Siapkah aku untuk menerima segala kelebihan dan kekurangannya...
Siapkah aku untuk tidak sebebas dulu, kemana2 semaunya, apa2 sesukanya...
Siapkah aku untuk menjadi istri baginya, anak bagi orang tuanya, saudara bagi sanak familinya...
Siapkah aku untuk hidup bermasyarakat, bertetangga, bersosialisasi... (beda donk klo dah berkeluarga dengan masih gadis..hehe)
Siapkah aku untuk lebih bertanggung jawab, lebih mandiri...
Siapkah aku untuk ...
ahhh, masih banyak pertanyaan dalam hatiku yang kadangkala membuatku merasa... "aku belum siap"
(Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan syetan yang terkutuk...)
Tapiii... aku teringat pada sebuah nasyid dari Suara Persaudaraan..
Apabila telah tiba masaku, untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan Allah berikan, Insya Allah janjiku segera ku tunaikan
Tapi bila kuraba dalam hati, datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini, berdegup jantung di dada kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah ku dengar, membuat ku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang, hatiku selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku segra tersadar, Hanya pada Allah-lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar, Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
Semoga Allah memberkahi jalan ini.... mohon do'a dari semua..
Minggu, 14 Februari 2010
:: E-Invitation : Pernikahan Pita & Didi
Sebuah catatan perjalanan menuju surga-Nya..
dimulai dengan langkah pertama... menikah.
Semoga Allah ridho dengan langkah kami ini dan mempersatukan kami dalam keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.. hingga akhir hayat kami dan disatukan-Nya kembali di surga kelak..
amiin
Rabu, 10 Februari 2010
Cinta dan Pernikahan
Orang bilang, cinta tidak membutuhkan alasan.. maka jangan pernah tanyakan pada orang yang mencintaimu "mengapa kau mencintaiku?"
Tapi menikah membutuhkan alasan.. salah satunya adalah cinta. Alasan umum bagi banyak orang ketika ditanya "mengapa kau menikahiku?" maka jawabnya adalah.. "karena aku mencintaimu".
Cukupkah hanya cinta?
Saat kita memilih atau menerima seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita selamanya, bahkan sampai di akhirat kelak, cukup kah HANYA CINTA yang menjadi alasannya?
Ada orang yang bilang, seharusnya cinta datang setelah pernikahan... Itu berarti cinta (kepada pasangan) bukan menjadi alasan untuk menikah bagi mereka. Lalu apa yang menjadi landasan mereka menentukan pilihan? Pasangan yang seakidah? Yang akhlaknya baik? Yang sholat wajib dan sunnahnya rajin? Yang baca Al-Qur'an nya bagus, tahsin? Atau mungkin sampai tahfidz? Yang mau berjihad ke Palestina? Banyak kriteria yang bisa digunakan untuk menilai seseorang memiliki "agama" yang baik, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Lalu bagaimana jika CINTA menyapa lebih dulu? Salahkah? Haramkah? Dosakah?
CINTA memang tak harusnya menjadi satu-satunya alasan untuk menikah, untuk menentukan pilihan... Butuh alasan lain agar dapat menjaga cinta itu tetap berada pada tempatnya..menjaganya... abadi selamanya.
Carilah alasan lain itu...
Dan tahukah kau dimana harus mencarinya?
Selasa, 02 Februari 2010
Purnama yang tak sempurna
Tadi malam ku lihat rembulan mengintip dari balik jendelaku.. tak biasanya malam begitu cerah hanya diselimuti awan yang tipis dan diterangi oleh cahaya bulan. Meski bintang tak tampak dalam penglihatanku, aku yakin di belahan bumi sana, ada orang-orang yang bisa melihatnya...dan mungkin mereka tidak melihat bulan yang bersinar terang, sepertiku di sini.
Purnama tak lagi sempurna.... tapi sinarnya tetap terang, cukup bagiku untuk malam ini. Cukup untuk sedikit mengusir mendung yang terus menggelayut sepanjang hari. Meski hujan telah lewat, tapi dinginnya masih terasa. Mungkin sebagian pohon dan tanah masih menyimpan titisan airnya, tak tampak mata tapi ku yakin masih ada...
Terima kasih rembulan... kau telah membuat hariku bercahaya kembali, meski tak mungkin kulupa rasanya hujan dalam sekejap saja. Tapi hadirmu malam ini cukup menenangkan batinku sebelum ku pejamkan mata untuk menghadapi hari esok yang lebih berat...
Senin, 01 Februari 2010
Bila akhwat jatuh hati lalu patah hati..
Hmm... judul yang panjang yah. Tapi disini aku ingin bercerita (mungkin lebih tepat dibilang begitu, karna aku bukanlah siapa2 yang punya segudang pengalaman tentang hal ini) mengenai 2 hal yang wajar terjadi pada setiap insan yang normal yang telah mencapai masa balighnya.
Kalau biasanya pembahasan dua hal ini ditulis secara terpisah (sempat googling sebentar), kali ini aku ingin membahasnya secara bersamaan. kenapa? karena kalo akhwat jatuh hati, biasanya isinya nasihat2 bagaimana agar tetap menjadi perasaan, akal, dan nafsunya tetap pada koridor syariat. Kalau akhirnya perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, alias bisa langgeng ke pelamina, maka tiada kata yang dapat terucap selain syukur yang amat sangat pada Sang Pencipta. Nah, klo ternyata tak berbalas? Patah hati donk pastinya... Apalagi akhwat alias wanita adalah makhlus Allah yang lembut perasaannya, gampang ge er, te
Rabu, 20 Januari 2010
Tempat parkir saja aku minta pada-Nya....
Suatu hari aku harus pergi ke sebuah pasar yang konon kabarnya selalu ramai dan susah parkir... biasanya kalau ke sana aku lebih milih untuk naik taksi atau dianterin sama kakak.
Dari pagi aku sudah membayangkan jalanan di depan pasar tersebut yang selalu macet dan dipenuhi oleh bajaj dan angkot yang setia menanti penumpang yang keluar dari pasar. Ini nih yg bikin macet...huh. Belum lagi tempat parkir di basement yang terlihat gelap dan sempit...hadoooh... Yah meskipun sudah beberapa bulan bawa mobil sendiri, tapi untuk urusan parkir kadang masih fobia saat harus bepergian sendiri.
Akhirnya, dari pagi aku sudah berdoa... "Ya Allah, mudahkanlah urusanku hari ini" berharap nanti siang semuanya lancar, jalanan gak macet - apalagi jakarta habis diguyur hujan deras malam harinya dan merata di seluruh area - gak nyasar, dan dapet tempat parkir yg mudah :D
siang hari pun begitu... ba'da sholat zuhur, ku titipkan lagi harapanku itu kepada Yang Maha Mengatur... dan setelah makan siang, bismillah....aku pun menuju ke lokasi tersebut. Sesampainya di sana, jalanan lumayan "sepi", gak nyasar... (hehehe..) daaaan, pas masuk gerbang pasar, lagi nungguin abangnya nulis kartu parkir, eeh..mobil di depanku keluar...langsung deh tinggal lurus dan parkir dengan mudahnya... Alhamdulillah ^_^
Setelah urusanku selesai di pasar itu, dalam perjalanan pulang aku terpikir kembali akan doaku sepanjang pagi hingga siang tadi...subhanallah, Allah itu Maha Mendengar... lalu aku pun teringat cerita temanku hampir di sepanjang perjalanan pergi tadi... (oops, disinggung lg nih :p) Jika hal kecil seperti tempat parkir saja bisa ku pinta pada Allah, dan langsung di kabulkan... mana mungkin Allah tidak memberi suatu hal besar apalagi jika diniatkan untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah Allah sudah mengatakan dalam Al-Qur'an "mintalah kepada Ku niscaya akan Aku kabulkan..."
Makanya, saranku adalah berdoa...berdoa...berdoa...berusaha...berdoa...berdoa...berdoa...dan berserah diri...Jangan sekali-kali kau anggap remeh suatu Doa. Tahukah kau bahwa itu senjata yg paling hebat yg dimiliki orang2 mukmin?? Jangan pernah berputus asa untuk berdoa...dan yang pasti, jangan pernah memaksakan suatu doa...mungkin hanya belum dikabulkan atau sudah dikabulkan tapi dalam bentuk yang lain, hanya kita yang tidak jeli melihatnya.
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al-Baqarah: 216)
Buat sahabatku dan someone (yg mungkin membaca ini dan merasa....), semoga ditunjukkan jalan yang terbaik... apapun yg terjadi di akhir cerita nanti, cobalah untuk melihat lebih luas dan hati yg lapang... adakah ini jawaban dari doa2 mu??? Tetaplah bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan padamu ^___^
Selasa, 12 Januari 2010
sebuah tulisan dan doa...
Untuk Calon Suamiku…..
Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .
Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)
Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.
Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai calon suamiku.
Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.
Duhai Calon Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.
Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.
Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal ‘alamin.
copas dari: http://auliyaa.blogdetik.com/2009/02/25/untuk-calon-suamiku/